Sampai Kapan Jose Mourinho Jadi Mister Nice Guy?

29 November 0

 Jakarta Belum genap tiga pekan Jose Mourinho ditunjuk melatih Tottenham Hotspur, sudah dua kemenangan dikantunginya. Keunggulan 3-2 di kandang West Ham dan 4-2 atas Olympiacos Piraeus di London menjadi sebuah awal yang baik untuk The Special One.

Pelatih cerdas dan perlente asal Portugal ini tidak sekadar kembali ke winning habit tapi dia juga melakukan comeback dengan santun. Saya kini berani menyebutnya sebagai “Mister Nice Guy” karena tindak-tanduknya sangat terpuji: ia menyanjung kinerja para pemainnya, memberikan apresiasi kepada pendukung Spurs, dan ia pun bahkan memeluk ball boy yang jadi bagian dari skenario gol kedua Tottenham ke gawang Olympiacos lantaran sang bocah cepat memberikan bola pengganti ketika bola keluar dari lapangan.

Media-media Inggris awalnya menyebut bahwa Spurs terlalu gegabah. Pasalnya, proses hengkangnya Mauricio Pocchetino dari klub London Utara itu persis sama dengan ketika Mourinho terdepak dari Manchester United. Menjelang dipecat, mereka sama-sama mengkritik manajemen elite klub yang memasang tali kekang ketika bicara soal urusan jual-beli pemain, dan keduanya pun sama-sama mempersalahkan 1-2 pemain kunci sebagai biang kekalahan klub.

Memakai Kacamata Komentator

Well, penulis punya teori soal ini, di mana terlihat jelas sebenarnya petinggi Tottenham, Daniel Levy, sudah berhitung dan mengamati sepak terjang Mourinho dalam beberapa bulan terakhir di layar kaca. Ya, Jose meski tidak lagi melatih tapi kerap tampil sebagai komentator di Sky Sports Football dalam periode jeda di antara kariernya di Manchester United dan Tottenham.

Ketika tampil pertama kali untuk menjadi komentator Manchester United versus Chelsea musim ini dirinya mengatakan kepada programme host bahwa ia berharap tidak terlalu lama menjadi football pundit karena ia berharap segera mendapatkan tawaran melatih kembali. Jose pun menambahkan ia berharap bisa mengerti sudut pandang orang lain, terutama para football pundit, sesudah dirinya sempat memakai kacamata komentator.

Nah, di sini kuncinya. Mourinho ternyata sadar tidak bisa terus menerus membuang bom arogansi untuk menuai kontroversi demi menaikkan tensi laga dan akhirnya mempengaruhi jalannya pertandingan dan pada akhirnya berpengaruh juga pada hasil duel. Ia bahkan sebelumnya sempat dengan terbuka dalam sebuah konferensi pers menyerang balik ujaran kritis dari komentator Sky Sports Football lainnya, Jamie Redknapp dan Graeme Souness, menyoal dirinya dan klub yang tengah dilatihnya.

Hati-Hati dengan Perangkap Pewawancara

Berkat jam terbang sebagai narasumber sepak bola di televisi, Mourinho pun terpantau Levy menjadi sosok yang lebih lembut bertutur kata dan berempati pada orang lain. Karena tak suka dikritik, ia pun berhati-hati mengomentari kinerja wasit saat menjadi komentator laga antara Liverpool dan Manchester City.

Sependapat dengan koleganya di layar kaca saat itu, Roy Keane, Jose mengatakan alih-alih membicarakan kontroversi keputusan sang pengadil untuk tidak memberi hadiah penalti bagi The Citizens sebaiknya forum membicarakan betapa baiknya Liverpool bermain ketika menggilas City 3-1 saat itu. Sebagai pelatih Spurs sejauh ini, Mourinho pun cenderung tampil dengan positif dalam berbagai kesempatan. Tapi tunggu saja bagaimana reaksinya bila menghadapi pertanyaan sulit dari nyamuk pers. Ia perlu berhati-hati dengan perangkap yang dipasang para pewawancara.

Tidak akan ada yang meragukan kemampuan Jose Mourinho sebagai arsitek tim, yang di kancah Premier League saja sudah mengantungi tiga piala. Akan lebih mulia lagi baginya bila kualitas brilian sosoknya sebagai manusia terpancar dari tutur kata yang santun dan tidak menyakiti siapapun. Provokatif boleh, karena dunia sports tanpa bumbu provokasi ibarat sayur tanpa garam. Akan tetapi, tidaklah perlu menyerang pribadi atau institusi, apalagi sampai mengeluarkan ejekan. Welcome aboard Mister Nice Guy, dan jangan mudah terprovokasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *