Liverpool Berbagi Poin dengan Napoli, Persaingan Grup E Liga Champions Makin Menarik

28 November 0

Liverpool harus puas berbagi poin dengan Napoli dalam laga kelima Grup E Liga Champions. Bermain imbang 1-1 di Anfield, Kamis (28/11/2019), Liverpool dan Napoli masih belum bisa memastikan diri melangkah ke 16 besar Liga Champions dan bersaing dengan Red Bull Salzburg hingga matchday terakhir.

Napoli berhasil mengejutkan publik Anfield lebih dulu. Tim asal Italia itu membuka keunggulan lewat gol yang dicetak Dries Mertens pada menit ke-21. Mertens mencetak gol setelah menerima umpan dari Giovanni di Lorenzo.

Beruntung Liverpool mampu menggagalkan kemenangan Napoli di Anfield. The Reds terselamatkan dari kekalahan berkat gol yang dicetak oleh Dejan Lovren pada menit ke-65, yang memaksimalkan umpan dari James Milner.

Hasil imbang itu membuat Liverpool tetap berada di puncak klasemen Grup E Liga Champions dengan 10 poin dari lima laga. Napoli mengekor di posisi kedua dengan hanya terpaut satu poin saja.

Kondisi tersebut membuat persaingan di Grup E makin menarik karena di pertandingan lain, Salzburg berhasil meraih kemenangan 4-1 atas Genk. Kemenangan tersebut membuat Salzburg mengekor di posisi ketiga dengan tujuh poin, yang artinya tim asal Austria itu juga masih bisa menggagalkan Liverpool atau pun Napoli lolos ke 16 besar Liga Champions.

Paulo Dybala Bawa Juventus Bungkam Atletico, PSG Gagalkan Misi Balas Dendam Real Madrid

26 November 0

Juventus berhasil meraih kemenangan saat menjamu Atletico Madrid di laga kelima Grup D Liga Champions, Rabu (27/11/2019). Sementara itu, Real Madrid yang sempat unggul dua gol harus puas bermain imbang dengan Paris Saint Germain di Stadion Santiago Bernabeu.

Bianconeri memastikan diri meraih tiga poin dan belum terkalahkan dalam lima laga Grup D Liga Champions setelah menang tipis 1-0 atas Atletico Madrid di Allianz Stadium. Gol tunggal Paulo Dybala pada masa injury time babak pertama menjadi satu-satunya pembeda dalam laga kali ini.

Kemenangan ini membuat Juventus kini mengoleksi 13 poin dari lima pertandingan di Grup D Liga Champions dan kukuh di puncak klasemen, meninggalkan Atletico Madrid yang berada di peringkat kedua dengan selisih enam poin.

Atletico Madrid berada di peringkat kedua dengan tujuh poin, hanya unggul satu poin dari Bayer Leverkusen yang beberapa jam sebelumnya berhasil memastikan kemenangan 2-0 atas Lokomotiv Moscow.

Dengan begitu, Atletico Madrid dan Bayer Leverkusen akan memperebutkan satu jatah tiket terakhir dari Grup D Liga Champions pada pertandingan terakhir fase grup yang digelar 11 Desember mendatang, di mana Bayer Leverkusen akan menjamu Juventus sementara Atletico Madrid menjamu Lokomotiv Moscow.

Sempat Unggul 2 Gol, Real Madrid Gagal Balas Dendam

Sementara itu, dari Grup A Liga Champions, Real Madrid gagal membalaskan kekalahan mereka di Paris kala menjamu PSG di Santiago Bernabeu. Padahal Real Madrid bermain begitu meyakinkan di awal laga dengan lebih dulu unggul dua gol.

Dua gol Real Madrid diborong oleh Karim Benzema, masing-masing pada menit ke-17 dan 79′. Unggul dua gol jelang memasuki 10 menit terakhir pertandingan tampaknya menjadi ujian yang sebenarnya bagi fokus Real Madrid.

PSG justru berhasil mempertipis jarak dengan gol Kylian Mbappe pada menit ke-81. Bahkan PSG hanya butuh dua menit berselang untuk menyamakan kedudukan melalui Pablo Sarabia.

Hingga pertandingan berakhir, Real Madrid dan PSG tak lagi mencetak gol. Kedudukan imbang 2-2 menjadi penutup pertandingan, di mana Los Blancos gagal membalas kekalahan 0-3 yang mereka alami di Paris.

Namun, Real Madrid telah memastikan diri melangkah ke-16 besar Liga Champions sebelum laga ini dimulai. Hasil imbang yang diraih Galatasaray dan Club Brugge beberapa jam sebelum Real Madrid menjamu PSG memastikan perolehan poin Los Blancos juga tak terkejar lagi oleh kedua tim tersebut.

Menuju Sukses Piala Dunia U-20 Indonesia 2021: Klub Kuat, Timnas Kuat

26 November 0

 

Sidang FIFA pada 24 Oktober 2019  memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Keputusan FIFA ini tentu sangat membanggakan.

Di tengah berbagai pekerjaan pembinaan sepak bola usia muda yang tengah digalakkan giat oleh PSSI, masyarakat sepak bola Indonesia mendapatkan “bonus” event internasional prestisius, Piala Dunia U-20 2021Event yang mampu memberikan “percepatan” agar tim nasional junior berlaga di Piala Dunia Junior dan bersanding sejajar dengan negara sepak bola mapan.

Sebagai orang yang turut berkecimpung dalam pembinaan sepak bola usia muda selama hampir 15 tahun terakhir, perasaan penulis campur aduk deg-deg-ser menyambut berita ini. Perasaan awal tentu saja bahagia bukan main. Pergelaran internasional sekelas Piala Dunia U-20 tentu akan menjadi momentum untuk percepatan peningkatan prestasi sepak bola Indonesia.

Sudah pasti seluruh pemain, pelatih, wasit, pengurus, dan fans akan sangat antusias menyambut event ini. Jutaan anak Indonesia yang bermimpi ingin menjadi pesepak bola dijamin makin bersemangat latihan, karena dengan Indonesia 2021, mimpi mereka menjadi nyata dan hadir di depan mata langsung.

Tentu, kebahagiaan penting lainnya adalah jaminan bahwa Piala Dunia U-20 2021 akan mendorong pembangunan infrastruktur sepak bola berupa stadion dan tempat latihan berstandar internasional.

Sementara di sisi lain, Indonesia 2021 juga menyimpan kecemasan bagi penulis. Kecemasan itu berupa pertanyaan besar, “Setelah Piala Dunia U-20 2021, terus apa?”

Pertanyaan cemas ini didasari fakta beberapa tuan rumah Piala Dunia U-20 sebelumnya tidak mendapatkan efek positif apa pun terhadap prestasi tim nasional seniornya. Contoh paling dekat adalah Malaysia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 1997. Timnas senior Malaysia, ya gitu-gitu aja.

Kecemasan ini menjadi dering alarm bahaya. Jangan sampai sukses Indonesia dalam melaksanakan Piala Dunia U-20 2021 berhenti begitu saja.

Lalu, jangan sampai, katakanlah sukses Timnas Indonesia U-20 di Indonesia 2021 nantinya tidak memberi efek positif apa pun terhadap prestasi timnas senior setelahnya. Pada akhirnya, puncak dari segala kerja pembinaan sepak bola adalah prestasi tim nasional senior.

Kecemasan lain yang menyergap adalah kebiasaan buruk bangsa kita mengerahkan seluruh dana, daya, usaha, dan upaya hanya kepada satu event besar.

Indonesia 2021 harus jadi inspirasi penyemangat untuk seluruh aktivitas sepak bola, dari mulai timnas semua kelompok, liga profesional-amatir, elite pro academy, pendidikan pelatih-wasit, dll. Jangan sampai konsentrasi berlebih terhadap Indonesia 2021 membuat kita seolah menganak-tirikan aktivitas lainnya.

Timnas Indonesia U-20 tidak boleh menjadi anak emas dibandingkan timnas lainnya hanya karena Indonesia 2021. PSSI juga harus terus mengerahkan dana, daya, usaha, dan upaya kepada semua timnas secara bijak dan proporsional.

Timnas Indonesia U-16 misalnya. Mereka juga harus terus diupayakan untuk bisa lolos ke Piala Dunia U-17 di Peru 2021. Demikian juga dengan Timnas Indonesia senior, Timnas Indonesia U-23, Timnas Wanita Indonesia dan Timnas Putri Indonesia U-16. Ingat, seluruh tim nasional itu penting!

Tidak untuk TC Jangka Panjang

Kecemasan menyikapi Indonesia 2021 makin menjadi saat banyak pihak mewacanakan agar Timnas Indonesia U-20 melakukan persiapan gaya jadul bernama TC jangka panjang.

Idenya sederhana, PSSI diminta membentuk Super Team berisikan 25 pemain, kemudian diberi pelatih nomor satu, lalu dikirim berlatih dan uji coba di negara sepak bola maju. Katakanlah 3 bulan di Italia, 3 bulan di Inggris, 3 bulan di Belanda, 3 bulan di Spanyol dan seterusnya.

Ide ini memang terlihat sederhana dan luks. Ibarat abracadabra sulap, hasil positif model TC ini bisa jadi akan terlihat instan.

Dengan model ini, diyakini Timnas Indonesia U-20 bisa meraih hasil maksimal di Indonesia 2021. Mungkin menembus 8 besar, semifinal atau final sekalipun. Hanya saja, kalaupun cara instan ini diyakini akan efektif, mungkin PSSI atau pemerintah perlu berpikir seribu kali untuk melakukannya. Mengapa?

Problem terbesar TC jangka panjang adalah kita terfokus menggantungkan harapan prestasi di Indonesia 2021 hanya dengan berinvestasi kepada 25 orang.

Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan 11 pemain terbaik apabila hanya ada 25 orang yang berkompetisi untuk memperebutkannya. Padahal sepak bola adalah permainan dinamis, di mana kita membutuhkan ratusan pemain yang berkompetisi untuk menjadi 11 terbaik.

Hal negatif berikutnya dari TC jangka panjang adalah 25 pemain tersebut banyak berlatih dan sedikit bertanding dalam kompetisi formal. Sebagian besar waktu akan digunakan untuk berlatih dan uji coba non-formal. Pada akhirnya pemain kita akan sulit bersaing dengan pemain negara lain yang setiap akhir pekan selalu berkompetisi. Kebosanan dalam TC pun akan melanda.

Terakhir, hal negatif dari TC jangka panjang adalah tidak adanya legacy yang ditinggalkan PSSI pasca Indonesia 2021. Struktur fondasi rumah sepak bola akan hancur karena klub akan kehilangan pemain terbaiknya dalam waktu panjang.

Akademi klub akan berjalan di tempat. Kompetisi usia muda hambar kehilangan gairah. Kebijakan yang mengatasnamakan tim nasional tanpa disadari malah menggembosi tim nasional itu sendiri pada masa mendatang. Sebab klub yang kuat akan membentuk tim nasional yang kuat!

Memberikan Legacy

Indonesia 2021 harus menjadi momentum untuk membangun fondasi rumah sepak bola yang solid. Tujuan utama pembangunan fondasi rumah sepak bola adalah untuk memberikan legacy di masa mendatang, di mana setelah Indonesia 2021, sepak bola Indonesia akan makin berkembang, sehingga pada akhirnya Timnas Indonesia senior juga bisa menembus level dunia.

PSSI harus berpikir kreatif keluar dari kotak. Perlu dirumuskan suatu strategi di mana Timnas Indonesia U-20 bisa berprestasi di Indonesia 2021, tapi melalui peningkatan kinerja akademi klub, kualitas kompetisi usia muda, pendidikan pelatih, dan juga pengembangan grassroot.

Artinya penting untuk PSSI membuat suatu program terintegrasi dan holistic, dengan menggunakan Indonesia 2021 sebagai basis pemicu.

Penulis menawarkan beberapa gagasan inovatif yang layak untuk diimplementasi PSSI demi mencapai prestasi Timnas Indonesia U-20 di Indonesia 2021. Sekaligus untuk memperkuat akademi klub, kompetisi usia muda, pendidikan pelatih, dan grassroot.

  • Wajib Memberi Kesempatan untuk Pemain U-20 di Liga 1

PSSI dapat mengeluarkan regulasi wajib memainkan minimal 2 orang pemain U-20 selama minimal 45 menit di Liga 1. Regulasi ini akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pemain U-20 untuk merasakan atmosfer kompetisi level tinggi.

Pelatih Timnas Indonesia U-20 paling tidak setiap pekannya akan melihat minimal 36 pemain U-20 yang bertanding secara kompetitif di kompetisi senior. Matang di Kompetisi!

  • TC Buka-Tutup

PSSI bisa melakukan TC berjalan dengan sistim buka–tutup. Katakanlah dibuat dengan format 3 minggu kompetisi dan 1 minggu TC. Pada saat tertentu, Timnas Indonesia U-20 dapat melakukan TC lebih panjang berdurasi 2-3 pekan di negara sepak bola maju atau mengikuti turnamen.

Harapannya, pemain akan ditempa oleh kompetisi, tetapi chemistry dan level komunikasi tim tetap terbangun optimal melalui TC rutin berkala.

  • Ekspansi dan Modifikasi Kompetisi Elite Pro Academy

Indonesia 2021 harus jadi momentum meningkatkan kualitas kompetisi elite pro academy. Ekspansi bisa dilakukan dengan menambah jumlah pertandingan di Liga 1 U-20, U-18, dan U-16.

Alokasi dana untuk TC jangka panjang bisa direlokasi untuk subsidi kompetisi elite pro academy. Selain ekspansi, PSSI juga perlu melakukan modifikasi kelompok usia untuk memastikan target scouting pemain tim nasional terjamin menit bermainnya dengan lawan kompetitif. Misal bisa dilakukan berbagai inovasi berikut:

  • Liga 1 U20
    • Kelahiran 2000, Joker 2 pemain 1998-1999.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2001 wajib main selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U-20).
  • Liga 1 U18
    • Kelahiran 2002-2003.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2004 wajib bermain selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U-17).
  • Liga 1 U16
    • Kelahiran 2004-2005.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2005 wajib main selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U19 untuk 2021)

 

  • Melibatkan Pelatih Akademi di TC Timnas Junior

Untuk meningkatkan kualitas pelatih dan latihan di klub, PSSI bisa melibatkan pelatih akademi pada setiap TC tim nasional. Katakanlah saat TC tim nasional, kompetisi diliburkan.

Selain memanggil pemain, PSSI juga memanggil pelatih akademi 18 klub Liga 1 untuk mengikuti TC tim nasional. Tujuannya agar pelatih akademi dapat belajar dari pola latihan di tim nasional dan memuluskan penyelarasan program latihan tim nasional dan akademi klub. Tanpa disadari, kegiatan TC timnas sekaligus menjadi program kursus pelatih yang berkualitas.

  • Mentoring Visit ke Akademi Klub

Pada saat TC tim nasional selesai, pemain akan kembali ke klub untuk berkompetisi selama 3 pekan. Pada masa itu, pelatih tim nasional punya waktu untuk terjun langsung ke akademi klub untuk melakukan kunjungan dan mentoring.

Seluruh pelatih tim nasional akan ditugaskan berkeliling ke 18 akademi klub Liga 1. Melalui mentoring ini, pelatih tim nasional dapat memberikan asistensi agar kualitas latihan di akademi klub setara dengan di tim nasional. Pelatih tim nasional juga berkesempatan untuk memonitor perkembangan seluruh pemain yang ada di akademi klub.

  • Modifikasi LOTG

Inovasi terakhir adalah inovasi FIFA Laws of the Game, demi meningkatkan intensitas dan level of play kompetisi elite pro academy. Caranya adalah dengan memperbolehkan pemain melakukan quick dribble untuk bola out dan free kick.

Modifikasi peraturan permainan ini terbukti sukses diimplementasi di Belanda. Riset KNVB menyatakan bahwa real playing time naik secara signifikan. Ini tentu akan membantu tetap terjaganya intensitas permainan. Silakan cek visualnya di: https://youtu.be/1SH6Uy1jFls

Inovasi lainnya bisa kita contoh dari liga usia muda di Spanyol, dimana pemain yang terkena kartu kuning diharuskan keluar lapangan selama 5 menit. Sehingga tim yang pemainnya kena kartu kuning harus main dengan lebih sedikit pemain.

Sanksi keras pada kartu kuning ini terbukti menurunkan jumlah foul. Efeknya, makin sedikit foul, berarti makin jarang permainan terhenti. Lagi-lagi intensitas permainan akan meningkat.

 

Fondasi Kuat

Dengan meninggalkan kebijakan TC jangka panjang, serta mengimplementasi berbagai inovasi di atas, diyakini Timnas Indonesia akan berprestasi optimal. Pada saat yang bersamaan kualitas akademi klub, kompetisi elite pro academy, serta kepelatihan akan meningkat tajam.

PSSI bukan cuma berharap Timnas Indonesia U-20 berprestasi di Indonesia 2021, tapi PSSI telah membangun fondasi rumah sepak bola yang kuat.

Inilah legacy yang dimaksud. Piala Dunia U-20 Indonesia 2021 tidak menjadi tujuan akhir, melainkan ini hanyalah momentum awal. Ya, dengan fondasi akademi klub yang kuat, pasti akan tercipta tim nasional yang kuat pula.

Ini merupakan jaminan bahwa sepak bola Indonesia akan menuju prestasi yang lebih tinggi pasca Indonesia 2021. Mari bekerja keras membangun rumah sepakoola!! Bravo Indonesia!!

Ganesha Putera

*) Penulis adalah pegiat sepak bola usia muda. Pendiri www.kickoffindonesia.com. Co-founder Filosofi Sepak bola Indonesia (Filanesia) saat mampir bekerja 29 bulan di Departemen Teknik PSSI. Wakil Direktur Pengembangan Sepak bola Persija Jakarta. Bercita-cita membawa klub Indonesia bermain di Piala Dunia Antar Klub.

Dramatis, Manchester United Gagal Menang di Kandang Sheffield

25 November 0

Manchester United harus puas bermain imbang dengan skor 3-3 melawan Sheffield United pada lanjutan Premier League 2019-2020 di Stadion Bramall Lane, Minggu (24/11/2019). Manchester United sempat unggul 3-2. Namun, gol Oli McBurnie membuyarkan kemenangan mereka.

Manchester United mencetak gol melalui aksi Williams, Mason Greenwood, dan Marcus Rashford. Sedangkan Sheffield United mencetak gol lewat John Fleck, Lys Mousset, dan McBurnie.

Manchester United mendapatkan perlawanan ketat dan spartan dari Sheffield United. Pada menit ke-11, David de Gea menyelamatkan gawang tim Setan Merah dua kali.

Pertama, dia menepis tendangan voli dari Lundstram. Kedua, dia harus menghalau bola sundulan David McGoldrick.

Namun, kegemilangan De Gea runtuh. Manchester United kebobolan pada menit ke-19. John Fleck mengubah skor 1-0 untuk Sheffield United dengan manfaatkan bola muntah tembakan John Lundstram.

Semua ini berawal dari blunder Phil Jones. Dia gagal mempertahankan bola saat direbut Mousset yang memberi operan kepada Lundstram.

Pada menit ke-39, Daniel James melepas umpan silang berbahaya. Namun pertahanan Sheffield United cukup jeli menghalau bola.

Hingga babak pertama berakhir, Manchester United tetap tertinggal 0-1 dari Sheffield United.

Manchester United langsung menggantikan Jones dengan Jesse Lingard di babak kedua. Blunder konyol Jones sepertinya harus dibayar mahal.

Pergantian ini tak membawa hasil. Mousset membuat skor menjadi 2-0 untuk Sheffield United pada menit ke-52 usai tembakan jarak jauhnya manfaatkan umpan Fleck gagal dijangkau De Gea.

Manchester United membuka peluang lewat Anthony Martial. Namun tembakannya pada menit ke-64 melebar dari target.

Manchester United akhirnya memperkecil kekalahan lewat Williams pada menit ke-72. Dia mencetak gol sehingga membuat skor berubah 1-2 setelah manfaatkan umpan Mason Greenwood.

Pasukan Ole Gunnar Solskjaer menyamakan skor menjadi 2-2 lewat gol Mason Greenwood pada menit ke-77. Dia jeli manfaatkan umpan tarik Marcus Rashford.

Pada menit ke-79, giliran Marcus Rashofrd yang membuat MU berbalik unggul 3-2. Dia mampu mencetak gol manfaatkan umpan mendatar dari Daniel James.

McBurnie membuat MU gigit jari usai mencetak gol penyeimbang pada menit ke-90. Dia membuat skor menjadi 3-3 setelah manfaatkan umpan Robinson. Dua pemain ini merupakan pemain pengganti.

Hingga pertandingan berakhir, skor 3-3 antara MU lawan Sheffield United bertahan.

Susunan Pemain

Sheffield United (3-5-2): Moore; Basham/Robinson (83), Jagielka, O’Connell; Baldock, John Lundstram, Norwood, John Fleck, Enda Stevens; David McGoldrick, Lys Mousset/McBurnie (68).

Manchester United (3-4-3): de Gea;Lindelof, Harry Maguire, Phil Jones/Lingard (46); Wan-Bissaka, Andrea Pereira/Greenwood (73) , Fred, Brandon Williams; Daniel James, Anthony Martial/Tuanzebe (85), Rashford.

Hasil Pertandingan Manchester City Vs Chelsea : Gol Riyad Mahrez Jadi Penentu

24 November 0

Manchester City menuai angka penuh saat menjamu Chelsea, pada laga lanjutan Premier League 2019-2020, Minggu (24/11/2019) dini hari WIB. Manchester City menang dengan skor 2-1 di stadion Etihad.

Tiga gol Manchester City dilesakkan masing-masing oleh Kevin de Bruyne dan Ryad Mahrez. Sedangkan Chelsea mencetak gol lewat N’Golo Kante.

Manchester City mendapatkan peluang di menit ke-4. Tembakan Kevin de Bruyne hasil umpan Aguero nyaris berbuah gol, hanya melebar beberapa sentimeter saja. Pada menit ke-8, giliran Chelsea yang menggebrak lewat Tammy Abraham. Dia merebut bola dari Cancelo dan mengumpan kepada Wilian. Namun gelandang asal Brasil itu tak mampu melepas tembakan dengan akurat.

Abraham kembali membuat Chelsea berpeluang usai menerima umpan terobosan Pulisic di menit ke-18. Namun dia tertangkap offside. Chelsea mengubah skor jadi 1-0 atas Manchester City lewat gol N’Golo Kante. Umpan jauh Kovacic berhasil menembus Kante yang kosong di lini depan dan tanpa ampun jebol gawang Manchester City

Manchester City menyamakan skor jadi 1-1 lewat Kevin de Bruyne. Gelandang asal Belgia itu manfaatkan bola muntah lewat tendangan mendatar di menit ke-29.

Manchester City berhasil berbalik unggul di menit ke-37. Manfaatkan umpan Rodri, Ryan Mahrez berhasil mengubah skor menjadi 2-1. Hingga peluit babak pertama berakhir skor 2-1 untuk Manchester City tetap bertahan.

Manchester City kembali menggebrak lewat Mahrez di menit ke-49. Namun tembakannya kali ini melebar. City kembali trengginas lewat De Bruyne di menit ke-55. Upayanya untuk melambungkan bola demi gol masih bisa ditepis Kepa.

Chelsea langsung mengganti dua pemain pada menit ke-73. Mason Mount masuk gantikan Jorginho, dan Batshuayi gantikan Abraham. Willian nyaris membuat skor imbang di menit ke-80. Namun tembaknnya berhasil ditepis Ederson meski wasit tak melihatnya sehingga dianggap tendangan gawang.

Josep Guardiola tampak menginstruksikan agar Raheem Sterling dan Mahrez bertukar posisi di menit ke-89. Ini untuk membuat permainan Chelsea buyar. Strategi ini tampak berhasil saat Sterling mencetak gol di injury times tapi dianulir setelah VAR melihat Gabriel Jesus offside.

Hingga pertandingan berakhir skor 2-1 untuk Manchester City tetap bertahan.

Susunan Pemain

Manchester City (4-3-3): Ederson; Joao Cancelo, John Stones, Fernandinho, Benjamin Mendy; Kevin De Bruyne, Rodri/Gundogan (52), David Silva/Foden (67); Riyad Mahrez, Aguero/Jesus (77), Raheem Sterling

Chelsea (4-3-3): Kepa ; Azpilicueta, Kurt Zouma, Fikayo Tomori, Emerson/ Recce James (59); N’Golo Kante, Jorginho/Mount (74), Mateo Kovacic; Willian, Tammy Abraham/Batshuayi (73), Christian Pulisic

Madura United Dipermalukan Bhayangkara FC, Rasiman Minta Maaf

22 November 0

Madura United masih mengalami paceklik kemenangan di Shopee Liga 1 2019. Setelah kalah dari Persipura Jayapura dan Arema FC, kini mereka takluk 1-2 dari Bhayangkara FC pada pekan ke-28 di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Jumat malam (22/11/2019).

Bhayangkara unggul terlebih dahulu lewat Bruno Matos pada menit kelima. Madura United kemudian menyamakan kedudukan pada menit ke-64 berkat sundulan Aleksandar Rakic. Sayang, Dendy Sulistyawan mencetak gol penentu pada menit ke-80 dan membuat Bhayangkara mencuri poin penuh.

Pelatih Madura United, Rasiman, mengirim permohonan maaf atas hasil burik timnya. Tiga kekalahan beruntun dengan dua di antaranya merupakan laga kandang merupakan hasil yang memalukan untuk tim papan atas.

“Saya minta maaf kepada manjemen dan presiden klub, elemen suporter, dan warga Madura. Menurut saya, kami kalah dengan sangat memalukan,” kata Rasiman dalam jumpa pers pasca laga.

“Bagaimana mungkin tim sekelas Liga 1 kebobolan gol dari tengah lapangan. Saat kami berusaha comeback, kami malah memberi hadiah lagi untuk lawan,” imbuh pelatih berusia 44 tahun itu.

Dua gol yang dicetak oleh Bhayangkara FC memang lahir lewat proses yang seharusnya bisa dihentikan. Para pemain Madura United melalukan kesalahan fatal yang berujung kebobolan.

Gol Bruno Matos tercipta setelah dia melepas tembakan melambung dari tengah lapangan. Lini belakang Madura United dalam situasi berada di garis pertahanan tinggi sedangkan kiper Satria Tama terlalu maju ke depan sehingga gagal menghalaunya.

Lalu, gol Dendy pun gagal diantispasi. Dalam situasi tendangan bebas, bek Marckho Meraudje berusaha membuang bola. Dendy kemudian menguasai bola dan melepas tembakan yang melewati sela kaki Andik Rendika Rama.

Masih Melakukan Kesalahan

Rasiman berkali-kali menekankan kepada anak asuhnya untuk meminimalisasi kesalahan dalam setiap pertandingan. Sayang, Greg Nwokolo dkk. selalu melakukan kesalahan kecil yang menguntungkan lawan.

“Persoalan kami masih selalu membuat kesalahan yang tidak perlu. Sampai hari ini, saya belum mendapat alasan masuk akal bagaimana serangan pertama berbuah gol,” kata Rasiman.

“Saya belum menemukan jawaban. Tapi, ini tanggung jawab saya. Saya tidak visa menyalahkan pemain. Secara permainan, kami mampu menekan dan berusaha membalikkan kedudukan,” tutur Rasiman.

“Kami menyerang tapi lawan kerap melakukan serangan balik. Saat kedudukan imbang 1-1, permainan kami terlalu terbuka. Saya akan mengevaluasi tim ini dan berusaha mendapat hasil lebih baik dari hari ini,” ujar pelatih asal Banjarnegara itu.

Hasil ini membuat Madura United masih tertahan di peringkat keempat klasemen sementara. Laskar Sape Kerap tetap mengoleksi 44 poin dari 28 pertandingan yang telah dijalani.

Prediksi Madura United Vs Bhayangkara FC: Tuan Rumah Ingin Bangkit

22 November 0

Madura United sedang mencari obat luka setelah dua laga terakhir yang mereka jalani di Shopee Liga 1 2019 kalah dengan skor identik 0-2. Mereka butuh bangkit setelah kekalahan dari Persipura Jayapura dan Arema FC.

Pelampiasan itu tiba saat Madura United menjamu Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bangkalan, Bangkalan, Jumat (22/11/2019) malam. Setelah jeda internasional, Laskar Sape Kerap dalam kondisi siap kembali memetik kemenangan.

Sementara itu, Madura United juga memiliki misi untuk memperbaiki rekor pertemuan dengan Bhayangkara FC. Sejak 2016, klub asal Pulau Garam itu minim kemenangan saat melawan kampiun Liga 1 2017 tersebut.

Total, kedua tim sudah berjumpa tujuh kali. Hasilnya, Bhayangkara FC mampu memenangi empat laga di antaranya, sementara Madura United hanya sekali saja.

“Kedua tim akan bertanding dengan sama-sama memiliki waktu istirahat yang panjang selama FIFA Matchday. Kami berusaha melakukan banyak perbaikan dan evaluasi dengan kekuarangan tim ini,” kata Rasiman, pelatih Madura United.

“Kami harus bisa memaksimalkan peran sebagai tuan rumah, karena ke depan akan lebih banyak pertandingan ke markas lawan. Semoga tim ini bisa bangkit dan memberi tiga poin yang sebelumnya belum kami dapat,” imbuh pelatih berusia 44 tahun itu.

Madura United memiliki kenangan buruk saat menjamu Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bangkalan. Hal itu terjadi dalam persaingan di Liga 1 2017, tepatnya 8 November. Dalam laga tersebut, Madura United juga terpaksa menggelar laga tanpa penonton.

Saat itu, tiga pemain Madura United mendapat kartu merah dan terpaksa berjuang dengan delapan pemain. Hasilnya, Bhayangkara FC berhasil menang 3-1 sekaligus mengunci gelar juara.

Suasana terkini tentu berbeda dengan saat itu. Bhayangkara FC tidak dalam upaya merebut gelar juara. Hanya, Madura United justru tercatat belum pernah menang saat menjamu klub berjulukan The Guardians itu.

Sayangnya, Madura United tidak bisa menurunkan kekuatan penuh dalam upaya menaklukkan Bhayangkara. Zulfiandi dan Syahrian Abimanyu masuk skuat Timnas Indonesia U-22 yang berlaga di SEA Games. Lalu, Beto Goncalves juga masih diragukan tampil.

Bhayangkara FC Ingin Jaga Tren Positif

Perubahan yang Bisa Dilakukan Jose Mourinho di Tottenham Hotspur

21 November 0

Jose Mourinho kembali ke dunia kepelatihan. Kini, Tottenham Hotspur menjadi pelabuhan baru The Special One.

Mourinho menandatangani kontrak bersama Spurs hingga musim panas 2023. Eks manajer Chelsea tersebut menggantikan posisi Mauricio Pochettino yang baru saja dipecat pagi tadi.

Manajer asal Portugal tersebut terakhir kali melatih pada Desember tahun lalu. Pada saat itu, Manchester United memecat Mourinho setelah rentetan hasil buruk yang dialami klub.

Sebelum membesut Spurs, Mourinho pernah melatih tim London lainnya, Chelsea. Bersama The Blues, ia mempersembahkan tiga gelar Premier League.

Jose Mourinho merupakan pilihan tepat dalam mengangkat performa Spurs yang sedang terpuruk. Pelatih asal Portugal tersebut memiliki segudang pekerjaan demi mengangkat performa Spurs di kompetisi domestik.

Berikut lima perubahan yang akan dilakukan Mourinho selama menjabat sebagai pelatih kepala Tottenham Hotspur.

Menangkan Trofi

Terakhir kali Spurs meraih trofi pada musim 2007-2008. Pada musim tersebut Spurs mampu meraih Piala Liga seusai mengalahkan Chelsea dengan skor 2-1 pada partai final di Stadion Wembley.

Bersama klub sebelumnya, Manchester United, Mourinho mempersembahkan Piala Liga, Liga Europa, dan Community Shiled. Trofi-trofi tersebut tidaklah mewah, setidaknya mampu mengisi kekosongan lemari di Stadion Baru Tottenham Hotspur.

Graeme Souness menyebut Tottenham Hotspur sudah melakukan keputusan tepat dengan menunjuk Jose Mourinho sebagai manajer. Menurutnya, Spurs membutuhkan sosok yang bisa menghadirkan sepak bola yang menyerang dan atraktif.

“Jose adalah figur sempurna. Spurs adalah klub besar yang seharusnya bermain menyerang dan atraktif. Jose mampu menerapkan sistem yang lebih pragmatis, yang bisa menghadirkan trofi buat Spurs,” sambungnya.

“Apakah Jose Mourinho akan memenangi Liga musim ini? Tidak. Tapi Spurs bakal menjadi tim yang sulit dihadapi,” kata Souness lagi.

Memperkuat Pertahanan

Pertahanan Spurs sangat mengerikan musim ini. Dalam 12 pertandingan Premier League, Spurs sudah kebobolan 17 gol. Hal itu yang harus segera dibenahi Spurs pada sisa musim ini.

Demi memperkuat sektor pertahanan, Spurs mendatangkan Mourinho. Eks manajer Real Madrid tersebut dikenal dengan permainan bertahannya. Bahkan, Mourinho menginstruksikan anak asuhnya untuk melakukan parkir bis ketika berhadapan dengan tim yang kuat dalam menyerang.

Perpanjang Kontrak Pemain

Pochettino memiliki sejumlah masalah dengan beberapa pemain seperti Christian Eriksen, Danny Rose, dan Jan Vertonghen. Ketiga pemain tersebut ogah perpanjang kontrak dengan klub yang berbasis di London Utara tersebut. Bahkan ketiganya tak segan-segan untuk angkat kaki secara gratis dari Tottenham Hotspur.

Lemahnya lini pertahanan dapat diatasi di bawah tangan Mourinho. Mourinho harus menemukan cara yang tepat untuk kembali membuat ruang ganti harmonis. Setelah itu, ia baru mulai membuka negosiasi kepada ketiga pemain tersebut agar dapat memperpanjang masa bakti bersama Tottenham Hotspur.

Memperbaiki Rekor Tandang

Tottenham Hotspur merupakan salah satu tim dengan rekor tandang terburuk. The Lilywhites hanya mampu meraih tiga kali hasil imbang dari enam pertandingan tandang yang telah dilalui.

Sejak 10 Januari, Spurs baru meraih tiga kali kemenangan, dan semuanya terjadi di Liga Champions. Kemenangan tandang terakhir Spurs terjadi saat berhadapan dengan Fulham pada 12 laga Premier League yang lalu.

Mempertahankan Harry Kane

Harry Kane telah tampil apik bersama Spurs. Selama musim ini, Kane telah mencetak 10 gol dalam 15 pertandingan bersama klub London Utara tersebut. Hal itu yang menyebabkan Kane diincar oleh sebagian klub top Eropa.

Mourinho harus memastikan Kane bertahan di Spurs. Jika tidak, maka klub tersebut tidak akan memiliki produktivitas gol seperti saat ini.

Mauricio Pochettino Resmi Didepak Tottenham Hotspur

19 November 0

Keputusan mengejutkan diambil Tottenham Hotspur di saat jeda internasional dengan memecat Mauricio Pochettino. Keputusan resmi diumumkan Spurs lewat situs resminya Rabu (21/11/2019) dini hari WIB.

Manajer asal Argentina itu dipecat menyusul kinerja klub yang tak stabil di awal musim ini.

Klub berada di posisi ke-14 di Premier League. Harry Kane dkk. hanya memenangi  tiga dari 12 pertandinganmusim ini. Klub kini berjarak enam poin dari zona degradasi.

Pochettino didapuk sebagai sebagai manajer klub asal London Utara pada 2014 setelah satu musim sempat singgah di Southampton.

Selama lima musim di sana, ia sukses mengantarkan Spurs ke final Piala Liga Inggris di musim pertamanya dan Tottenham lolos ke Liga Champions empat kali dari lima musim terakhir.

Musim lalu, Mauricio Pochettino membawa klub ke final Liga Champions pertama, sebelum dikalahkan Liverpool 0-2 pada bulan Juni lalu.

Rumor merebak pasca kegagalan jadi juara Liga Champions, Mauricio Pochettino kesal berat dengan manajemen Tottenham yang minim investasi pembelian pemain. Hubungannya dengan pemilik klub, Daniel Levy, memburuk karena di bursa transfer musim panas 2019-2020 Spurs minim membeli pemain bintang.

Dalam sebuah pernyataan singkat, Daniel Levy berterima kasih kepada Pochettino atas pekerjaannya dan mengakui itu adalah keputusan yang sulit untuk dibuat.

“Kami sangat enggan untuk melakukan perubahan ini dan itu bukan keputusan yang diambil Dewan dengan ringan, juga tidak dengan tergesa-gesa,” katanya seperti dilansir situs Tottenham Hotspur.

“Hasil kompetisi domestik yang disayangkan pada akhir musim lalu dan awal musim ini sangat mengecewakan. Adalah tanggung jawab manajemen untuk mengambil keputusan yang sulit. Keputusan ini dibuat lebih banyak mengingat banyak momen mengesankan yang kita miliki dengan Mauricio dan staf pelatihnya, tetapi kami melakukannya demi kepentingan terbaik klub.”

“Mauricio dan staf pelatihnya akan selalu menjadi bagian dari sejarah kami. Saya sangat mengagumi cara dia menghadapi masa-masa sulit jauh dari rumah, sementara kami membangun stadion baru dan untuk kehangatan dan kepositifan yang dibawanya kepada kami. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya dan staf kepelatihannya atas semua yang telah mereka sumbangkan. Mereka akan selalu diterima di sini. Kami memiliki pasukan yang bertalenta. Kita perlu memberi energi kembali dan mencari pelatih baru untuk memberikan musim yang positif bagi para pendukung kami,” ujar Daniel Levy.

Klub belum memenangkan pertandingan tandang di pentas Premier League sejak bulan Januari dan akan menghadapi rival sesama klub London, West Ham pada Sabtu (23/11/2019). Kekalahan di laga ini bisa membuat mereka kian dekat dengan zona merah.

Perpisahan antara Pochettino dengan Spurs sejatinya sudah diduga sejak awal musim ini. Sang pelatih mulai kehilangan semangat menangani klubnya. Ia butuh tantangan baru.

Bagian dari ketidakpuasan Pochettino berasal dari kegagalan klub untuk berurusan dengan masa depan sejumlah pemain tim utama yang mendekati akhir kontrak mereka. Danny Rose, Christian Eriksen, Toby Alderweireld dan Jan Vertonghen semuanya sudah mendekati akhir dari kesepakatan mereka di klub dan Pochettino ingin memulai siklus baru dengan serangkaian pemain baru.

Terlepas dari kesuksesan Tottenham Hotspur mendatangkan Tanguy Ndombele, Pochettino tidak senang dengan transaksi transfer timnya.

 

Kelewat Mahal, Liverpool Tak Tertarik Rekrut Kylian Mbappe

18 November 0

Liverpool dikabarkan media Spanyol, El Desmarque, enggan menebus Kylian Mbappe dari Paris Saint-Germain. The Reds tak sanggup memenuhi banderol Mbappe yang teramat mahal.

Liverpool tak mengeluarkan banyak dana pada bursa transfer musim panas tahun ini. Manajemen Si Merah hanya mengucurkan uang 1,9 juta euro (Rp 29 miliar), demi membeli Sepp van den Berg dari PEC Zwolle.

Meski minim dalam belanja pemain, Liverpool tampil impresif pada musim ini. The Reds masih kukuh bercokol di puncak klasemen sementara Premier League dengan nilai 34, lolos ke perempat final Piala Liga Inggris, dan nyaman di posisi teratas Grup E Liga Champions.

Demi mempertahankan performa bagus tersebut, Liverpool bakal belanja pemain pada bursa transfer Januari 2020. Apalagi, mereka akan menjalani jadwal yang cukup padat sejak akhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Satu nama yang santer diincar The Reds adalah Kylian Mbappe. Akan tetapi, manajemen Liverpool harus mengucurkan dana yang tak sedikit demi bisa mendapatkan Mbappe.

Paris Saint-Germain kabarnya baru akan melego penyerang Timnas Prancis tersebut dengan banderol yang mencapai 230 juta euro (Rp 3,7 triliun). Nilai itu melebihi transfer Neymar yang mencapai 222 juta euro (Rp 3,5 triliun) ketika dibeli PSG dari Barcelona pada 2017 lalu.

Mundur dari Perburuan

Dengan harga selangit, Liverpool mundur dari perburuan Kylian Mbappe. Seperti dilansir El Desmarque, The Reds tak sanggup memenuhi banderol yang dipatok Les Parisiens untuk Mbappe.

Dengan mundurnya Liverpool, Real Madrid semakin berada di baris terdepan untuk mendapatkan jasa Kylian Mbappe. Madrid sudah sejak dua musim terakhir berminat meminang pemain berusia 20 tahun itu dari Paris Saint-Germain.

Meski begitu, harga Mbappe yang sangat mahal membuat manajemen Los Blancos harus merogoh kocek dalam-dalam jika ingin mengamankan jasa si pemian.