3 Kelebihan Timnas Indonesia U-22 di Mata Pelatih Vietnam

10 December 0

Pelatih Vietnam, Park Hang-seo, menganggap Timnas Indonesia U-22 bukan tim yang mudah dikalahkan. Menurut Park, Osvaldo Haay dkk memiliki sederet kelebihan yang bisa jadi ancaman skuat Vietnam.

Timnas Indonesia U-22 akan menghadapi Vietnam pada laga final sepak bola SEA Games 2019. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Rizal Memorial pada Selasa (10/12/2019) malam WIB itu diyakini bakal berlangsung menarik.

Kedua tim berusaha menunjukkan performa terbaiknya untuk menjadi tim terbaik di Asia Tenggara. Namun Timnas Indonesia U-22 disebut harus berusaha ekstra keras untuk mengalahkan Vietnam.

Skuat racikan Park Hang-seo itu cukup diunggulkan untuk meraih emas di SEA Games 2019. Apalagi, Indonesia sempat kalah 1-2 dari Vietnam pada laga lanjutan Grup B SEA Games 1 Desember 2019.

Meski demikian, Timnas Indonesia U-22 bukan tim yang bisa dipandang sebelah mata. Skuat racikan Indra Sjafri itu punya kans melakukan balas dendam pada laga final tersebut.

Mengacu pada hal tersebut, pelatih Vietnam, Park Hang-seo, turut berkomentar tentang kelebihan Timnas Indonesia U-22 yang bisa jadi ancaman Vietnam. Berikut kelebihan Timnas Indonesia U-22 di mata pelatih Vietnam.

1. Terorganisasi dengan Baik

Melansir dari Vn Express, Selasa (10/12/2019), Park Hang-seo mengklaim Timnas Indonesia U-22 tergorganisasi dengan baik. “Indonesia adalah salah satu tim yang terorganisasi dengan baik,” ujar Park Hung-seo.

Pernyataan pelatih asal Korea Selatan itu bukan tanpa alasan. Indonesia memiliki kemampuan transisi yang baik dari lini pertahanan hingga lini depan.

Kondisi itulah yang membuat pertahanan Indonesia sulit dibongkar. Selain itu, kelebihan tersebut menjadi alasan yang membuat Indonesia mampu mengemas 21 gol sepanjang SEA Games 2019.

2. Pemain Timnas Indonesia Cerdas

Park Hang-seo juga mengatakan pemain Timnas Indonesia U-22 adalah anak-anak yang cerdas. Buktinya, skuat Garuda Muda mampu bagkit dengan catatan menakjubkan kala melawan Brunei Darussalam beberapa waktu lalu.

Padahal sebelumnya, Timnas Indonesia dipecundangi Vietnam dengan skor tipis 1-2. Pemain Timnas Indonesia U-22 disebut cepat belajar dari kekalahan yang diterima kala bersua Vietnam.

Selain itu, Park juga menyebut pemain Timnas Indonesia U-22 mengerti dengan baik posisi dan tanggung jawabnya. “Selain cerdas, pemain Indonesia juga mengerti dengan baik posisi dan tugas mereka di lapangan,” tambah Park Hang-seo.

3. Lini Sayap Menakjubkan

Park Hang-seo juga menyoroti lini sayap Timnas Indonesia U-22. Menurutnya, sektor sayap skuat Garuda Muda memiliki andil yang cukup besar atas keberhasilan tim.

Menurut analisis Park Hang-seo, 70 hingga 80 persen gol yang diciptakan Timnas Indonesia sepanjang turnamen datang dari sisi sayap.

“Mereka (pemain sayap)  mampu mencetak 17 gol dari 21 gol yang telah diciptakan Indonesia. Bisa dibilang, 70 hingga 80 persen gol Indonesia datang dari sisi sayap,” ujar Park Hang-seo.

Pernyataan pelatih Vietnam itu juga bukan tanpa alasan. Dua pemain sayap Timnas Indonesia U-22 yakini Osvaldo Haay dan Egy Maulana Vikri memang cukup merepotkan.

Sejauh ini, Osvaldo Haay telah mencetak 8 gol sepanjang SEA Games 2019. Sementara Egy Maulana Vikri telah berhasil mengemas empat gol

Diego Simeone Yakin Tidak Akan Dipecat Atletico Madrid

09 December 0

Diego Simeone menepis spekulasi bahwa ia bakal meninggalkan Atletico Madrid di tengah rumor bahwa Arsenal ingin menjadikannya manajer permanen berikutnya.

Simeone sedang ada dalam tekanan, Atletico hanya memenangi satu dari tujuh pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi.

Serangkaian hasil yang mengecewakan ini membuat Atletico Madrid merosot ke urutan keenam di La Liga dan juga mereka membutuhkan kemenangan atas Lokomotiv Moscow pekan depan untuk menjamin lolos ke fase knock-out Liga Champions.

Rumor panas berkembang menyebut Diego Simeone bakal dipecat jika kinerja klub tak membaik dalam beberapa pekan ke depan. Akan tetapi pelatig asal Argentina mengklaim ini tidak terjadi dan dia menghadapi tekanan yang sama seperti musim lainnya.

“Dalam delapan tahun saya di sini, selalu ada spekulasi sesaat. Namun, kami bergerak maju dengan kesabaran dan banyak energi. Saya tidak berpikir ada lebih banyak kritik daripada di musim lain,” kata nakhoda berusia 49 tahun itu.

Terbiasa Menghadapi Tekanan

Tanggung jawab yang saya miliki sangat besar. Saya menganggapnya dan membagi beban dengan pemain, klub, orang-orang yang bekerja di ruang ganti. Kita semua memiliki tanggung jawab, bagian yang saya pikul penting dan saya sedang mencari solusi sehingga semuanya kembali ke situasi terbaik, yaitu untuk menang. Ketika Anda menang, semuanya terlihat jauh lebih baik,” tutur Diego Simeone.

Simeone disebut-sebut sebagai kandidat untuk mengambil alih jabatan manajer permanen di Arsenal setelah pemecatan Unai Emery baru-baru ini. Namun, tampaknya ia tidak berniat meninggalkan ibu kota Spanyol dalam waktu dekat.

Kepindahan ke London hanya akan menjadi pilihan jika ia dipecat. Jadi pelatih Atletico Madrid sejak 2011, Simeone dinilai sukses menjaga eksistensi klub, sekalipun tiap musim klub kehilangan pemain-pemain penting. Kekalahan dari Barcelona 1-2 pada pekan lalu mengingatkan para penggemar dan media bahwa Atletico tengah musim transisi untuk kesekian kali.

Musim Transisi

“Perubahan akan datang dan, alih-alih mengenai tiang, bola akan masuk,” kata Diego Simeone.

“Kami harus tetap sabar dan tahu bahwa kami berada di tahun transisi.”

Atletico Madrid ditinggal sejumlah pemain penting pada musim musim panas lalu. Antonie Griezmann, Diego Godin, Rodri, Lucas Hernandez, Juanfran, Filipe Luis, dan Gelson Martins  pindah klub. Simeone membangun ulang tim dengan rekrutan-rekrutan anyar macam Joao Felix yang butuh waktu untuk nyetel dengan tim.

5 Data dan Fakta Setelah Chelsea Keok dari Everton

08 December 0

Chelsea takluk 1-3 dari Everton pada laga pekan ke-16 Premier League di Goodison Park, Sabtu (7/12/2019). Bagi The Blues, ini adalah kekalahan ketiga dari empat pertandingan terakhir di liga.

Tampil di kandang lawan, Chelsea bermain dominan. Berdasarkan statistik di situs resmi Premier League, Tim London Biru mencatatkan 69,8 persen penguasaan bola berbanding 30,2 persen milik Everton.

Meski begitu, Chelsea mendapat perlawanan sengit dari The Toffees. Laga baru berjalan lima menit, gawang The Blues yang dikawal Kepa Arrizabalaga telah dibobol Richarlison.

Masuk menit ke-49, giliran Dominic Calvert-Lewin yang mencatatkan namanya di papan skor. Chelsea sempat memperkecil ketertinggalan berkat gol yang disarangkan Mateo Kovacic pada menit ke-42.

Akan tetapi, Everton kembali membobol gawang The Blues pada menit ke-84, lewat lesatan Dominic Calvert. Sampai pertandingan berakhir, skor 1-3 untuk kekalahan Chelsea tetap bertahan.

Hasil ini pun membuat anak asuh Frank Lampard tersebut telah menelan tiga kekalahan dari empat laga. Dua hasil minor sebelumnya didapat ketika bersua Manchester City (1-2) dan West Ham United (0-1).

Sementara itu, satu-satunya kemenangan didapat ketika membungkam Aston Villa di Stamford Bridge, 4 Desember 2019.

Kekalahan tersebut membuat Chelsea masih terpaku di peringkat empat klasemen sementara Premier League dengan nilai 29. Sementara itu, Everton di posisi 17 dengan mengoleksi 15 poin.

Data dan Fakta:

Hasil Premier League: Kalah dari Brighton, Arsenal Kian Merana

05 December 0

Arsenal kian terpuruk. The Gunners kembali gagal meraih kemenangan setelah kalah dari Brighton & Hove Albion 1-2 pada lanjutan Premier League 2019-2020 di Emirates Stadium, Jumat (6/12/2019) dini hari WIB.

Alexandre Lacazette sempat membawa Arsenal menyamakan skor pada menit ke- 50’setelah Brighton mencetak gol via Adam Webster (’36). Namun, tuan rumah gagal menghindari nasib buruk setelah Neal Maupay (’80) merobek gawang Bernd Leno untuk kedua kali.

Dengan hasil ini, Arsenal urung memetik poin dalam sembilan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi. Posisi mereka di klasemen sementara juga stagnan.

Klub London Utara itu masih menempati peringkat 10 klasemen dengan raihan 19 angka dari 15 pertandingan. The Gunners tertinggal 10 poin di belakang Chelsea yang menguasai posisi terakhir zona Liga Champions alias empat besar.

Sebaliknya, Brighton naik ke urutan 13 klasemen. The Seagulls meninggalkan ancaman zona degradasi dan hanya tertinggal satu nilai di belakang Arsenal.

Arsenal menguasai awal babak pertama. Namun tuan rumah kesulitan menciptakan peluang berarti.

Sementara Brighton perlahan menguasai pertandingan dan beberapa kali mengancam gawang The Gunners. Salah satunya tendangan Maupay yang menguji kesigapan Leno.

Di atas angin, Brighton akhinya unggul melalui Webster. Memanfaatkan kemelut di kotak penalti, bek berusia 24 tahun tersebut menendang bola liar untuk membawa tim tamu memimpin.

Arsenal hampir membalas sebelum berakhirnya babak pertama. Namun tandukan Alexandre Lacazette masih bisa dimentahkan Matthew Ryan.

Dalam keadaan tertinggal, manajer interim Arsenal Freddie Ljungberg memasukkan Nicolas Pepe di awal babak kedua. Perubahan taktik itu berbuah manis. Arsenal menyamakan kedudukan setelah Lacazette menanduk sepak pojok Mesut Ozil.

Tidak tinggal diam, Aaron Mooy mengancam bagi tim tamu. Sementara David Luiz hampir membawa Arsenal memimpin jika golnya tidak dianulir video assistant referee karena diciptakan dalam posisi offside.

Brighton akhirnya kembali unggul setelah Maupay menyundul umpan silang Mooy. Arsenal kemudian coba menyelamatkan angka. Alih-alih demikian, justru mereka hampir kalah lebih besar jika penetrasi Leandro Trossard membuahkan hasil.

Susunan Pemain

Arsenal: Leno; Bellerin, Sokratis, David Luiz, Kolasinac (Tierney 73); Willock (Pepe 46), Xhaka, Torreira; Ozil; Aubameyang, Lacazette (Martinelli 77)

Brighton: Ryan; Webster, Dunk, Stephens; Alzate (Duffy 88), Propper (Trossard 80), Mooy, Gross, Burn; Maupay, Connolly (Montoya 76)

3 Pertimbangan yang Bikin Manchester United Tak Akan Pecat Solksjaer

04 December 0

Dua manajer Pemier League resmi dipecat pada akhir tahun 2019. Mereka adalah Mauricio Pochettino dan Unai Emery.

Pochettino didepak Tottenham Hotspur dari kursi kepelatihan pada Selasa (20/11/2019). Sementara Emery diberhentikan dari jabatannya sebagai manajer Arsenal pada Jumat (29/11/2019).

Mencuatnya keputusan tegas dua klub besar Inggris itu kemudian memunculkan spekulasi baru. Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, disebut menjadi calon korban pemecatan selanjutnya.

Di bawah asuhan pria asli Norwegia itu, MU tampil tak meyakinkan. Saat ini, MU bercokol di posisi sepuluh klasemen sementara.

Setan Merah hanya mencatatkan 4 kemenangan, enam hasil imbang, dan empat kekalahan dalam 14 pertandingan yang telah dilalui. Kabarnya, torehan prestasi itu jadi catatan terburuk Manchester United sejak 30 tahun terakhir.

Rumor pemecatan Ole Gunnar  Solskjaer pun mencuat ke permukaan. Metro bahkan pernah mengabarkan rumor Solskjaer bakal diberhentikan dari kursi kepelatihan jika mendulang hasil mengecewakan kala berusa Tottenham.

Meski demikian, rumor hanya sebatas rumor. Melansir dari Give Me Sport, ada tiga alasan masuk akal yang bikin MU tak akan memecat Ole Gunnar Solskjaer.

Apa saja alasan masuk akal tersebut Solskjaer akan dipertahankan Manchester United? Berikut Bola.com telah merangkumnya untuk Anda.

1. Tak Ada Kandidat yang Sesuai

Menurut laporan, Ole Gunnar Solskjaer merupakan pelatih yang paling pas menangani Manchester United. Misinya jelas. Dia hanya butuh waktu untuk membuktikan misi regenerasi yang sudah dibawanya sejak awal musim.

Salah satu wartawan asal Inggris, Daniel Taylor, juga sependapat dengan hal tersebut. Bahkan, Taylor melaporkan posisi Solksjaer masih aman, setidaknya sampai akhir musim.

Sebelumnya, salah satu pemain Manchester United juga mengatakan hal yang sama. Menurut Rashford, Solskjaer adalah pelatih yang paling sesuai dengan kondisi Manchester United.

“Ole adalah pria yang hebat dan dia memiliki misi yang bagus untuk klub. Menurut saya, tidak ada orang yang lebih berdedikasi dari Ole,” kata Rashford melansir The Sun beberapa waktu lalu.

2. Suporter Masih Cinta Solskjaer

Meski Manchester United tampil bapuk di bawah asuhan Ole Gunnar Solsjaer, pria asal Norwegia masih cukup dicintai suporter. Kondisi itu tak sama dengan respons suporter Arsenal terhadap Unai Emery.

Emery begitu dibenci di Emirates. Tagar #EmeryOut terus didegungkan suporter baik di tribune ataupun melalui cuitan di Twitter. Kasus tersebut berbeda dengan Solsjaer.

Kebencian suporter terhadap Solskjaer disebut tak separah itu. Menurut sejumlah pengamat, bapuknya MU musim ini tak semata-mata kesakahan Ole Gunnar Solskjaer.

3. Musuh Bersama Manchester United Bukan Ole Gunnar Solskjaer

elain itu, musuh bersama fans Manchester United bukanlah Ole Gunnar Solskjaer. Pelatih asli Norwegia itu disebut hanya korban dari semrawutnya manajemen Manchester United di bawah keluarga Glazer.

Beberapa waktu lalu, media Inggris The Sun bahkan menyebut keluarga Glazers dan Woodward sebagai musuh bersama nomor satu di Old Trafford. Menurut media tersebut, fans memusuhi keduanya karena tak mencari pengganti untuk Lukaku dan Herrera.

Keputusan itu membuat komposisi skuat begitu berantakan. Mengacu pada hal tersebut, fans lebih ingin Keluarga Glazer, termasuk Ed Woodward, pergi ketimbang mengusir Solksjaer.

Kalahkan Virgil van Dijk dan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi Rebut Ballon d’Or 2019

03 December 0

Jakarta – Bintang Barcelona Lionel Messi terpilih sebagai penerima Ballon d’Or 2019, Senin (2/12/2019) malam waktu Prancis. Messi menjadi pemain terbaik dunia usai mengalahkan penggawa Liverpool, Virgil van Dijk dan penyerang Juventus, Cristiano Ronaldo.

Ini menjadi kali keenam pemain 32 tahun itu mendapatkan trofi diberikan majalah France Football itu. Lionel Messi sekaligus menjadi orang pertama di dunia yang bisa meraih Ballon d’Or enam kali

Pria asal Argentina itu mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang bersama Cristiano Ronaldo dengan lima gelar. Messi pernah meraih Ballon d’Or di tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2015.

Terpilihnya Messi sebagai peraih Ballon d’Or 2019 cukup mengejutkan. Prestasi Messi di tahun 2019 tidak terlalu cemerlang dibanding para pesaingnya.

Lionel Messi hanya mempersembahkan satu gelar untuk Barcelona yakni juara La Liga ditambah 46 gol dan 17 assists. Sedangkan Van Dijk sukses membawa Liverpool menjuarai Liga Champions

Absen

Cristiano Ronaldo sendiri memilih tidak hadir di malam penghargaan Ballon d’Or 2019 di Paris. Kabarnya Ronaldo sudah mengetahui tidak akan menjadi pemenang.

Pemain asal Portugal itu hanya finis di posisi empat. Padahal sepanjang 2019, Ronaldo meraih dua gelar bergengsi yakni juara Serie A bersama Juventus dan UEFA Nations League di timnas Portugal.

Ronaldo sendiri lebih tertarik datang ke malam penghargaan Gran Gala yang merupakan penghargaan untuk para pemain di Liga Italia. Kebetulan Gran Gala digelar pada Senin (2/12/2019) malam.

Juventus Bermain Tanpa Jiwa dan Nalar

02 December 0

Pelatih Juventus, Maurizio Sarri, menyebut timnya bermain tanpa jiwa dan nalar ketika menghadapi Sassuolo. Juventus hanya meraih satu poin dari laga yang berlangsun di Allianz Stadium tersebut.

Juventus sempat tertinggal dari Sassuolo. Beruntung, Cristiano Ronaldo bisa mencetak gol melalui titik putih.

Sarri mengatakan kalau skuatnya tidak bermain jelek, namun ada beberapa kesalahan mendasar yang seharusnya tidak terjadi.

“Kami tak tampil negatif, namun kami membuka terlalu banyak ruang pada laga tadi. Kami terlalu mudah kehilangan bola dan seperti tidak memaksimalkan nalar dalam pertandingan,” ujar Sarri.

“Pada babak kedua, penampilan kami membaik. Namun, kami kurang fokus untuk meraih gol.”

“Kami membuat kesalahan fatal karena kebobolan akibat terlambat dalam melakukan transisi bertahan. Kami sangat lamban dalam mengembangkan permainan.”

“Saya rasa hal itu dikarenakan Juventus baru melewati dua laga yang sangat menyita perhatian. Kami seperti bermain tanpa jiwa pada laga tadi,” ungkap Sarri.

Hasil imbang melawan Sassuolo membuat Juventus harus merelakan posisi puncak klasemen kepada Inter Milan. Juventus tertinggal satu poin dari rivalnya tersebut.

Gonzalo Higuian, Cristiano Ronaldo, dan Paulo Dybala

Hasil Drawing Piala Eropa 2020: Neraka di Grup F

30 November 0

Pembagian grup Piala Eropa 2020 telah dilakukan. Sebanyak 20 negara sudah terbagi dalam enam grup. Grup F menjadi grup paling mengerikan karena diisi oleh raksasa Eropa.

Drawing Piala Eropa 2020 dilakukan di Bucharest, Rumania, Sabtu (30/11/2019) waktu setempat, dan dihadiri oleh sejumlah figur terkenal sepak bola, seperti Francesco Totti.

Hasil Drawing Piala Eropa 2020

Grup A

  • Turki
  • Italia
  • Wales
  • Swiss

Grup B

  • Denmark
  • Finlandia
  • Belgia
  • Rusia

Grup C

  • Belanda
  • Ukraina
  • Austria
  • (Pemenang play-off D atau A)

Grup D

  • Inggris
  • Kroasia
  • (Pemenang play-off C)
  • Republik Ceko

Grup E

  • Spanyol
  • Swedia
  • Polandia
  • (Pemenang play-off B)

Grup F

  • (Pemenang play-off A atau D)
  • Portugal
  • Prancis
  • Jerman

Target Tinggi Menanti Jika Luis Milla Kembali Tangani Timnas Indonesia

30 November 0
olenation, Link alternatif Olenation terbaru serta promosi-promosi terbaik yang dimiliki Bandar Bola Terbaik dan Terpercaya.

PSSI memasang target tinggi kepada Luis Milla jika ia kembali terpilih sebagai pelatih Timnas Indonesia. Induk sepak bola pimpinan Mochamad Iriawan itu mewajibkan Luis Milla memberikan gelar Piala AFF 2020.

Target tersebut diungkapkan PSSI dalam pertemuan dengan Luis Milla yang digelar di New World Manila Bay Hotel, Jumat malam (29/11/2019). Dalam pertemuan tersebut, pelatih asal Spanyol memaparkan rancangan program yang akan dilakukannya jika dipercaya menukangi Timnas Garuda

Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Somantri, mengaku pihaknya sengaja memberikan target tinggi karena menganggap Luis Milla sudah mengenal skuat Timnas Indonesia. Dengan keunggulan tersebut, Luis Milla diharapkan tinggal meneruskan saja program yang sudah dilakukannya bersama Timnas U-23 terdahulu.

“Kami tadi sudah menyampaikan kepada Luis Milla, Anda kan sudah melatih di sini hampir 2 tahun atau 20 bulan kalau gak salah. Artinya Anda sudah mengenal pemain kami sehingga dengan dia sudah mengenal pemain kita, pengalaman cukup lama, sehingga manakala kita panggil lagi dia untuk melatih kita, kita targetnya dong,” kata Cucu Somantri kepada wartawan.

“Kalau melatih lagi dari awal buat apa. Dia kan sudah mengenal selama ini sehingga kami menuntut apakah Anda sanggup untuk menjadikan juara paling tidak di AFF 2020. itu target kita yang disampaikan kepada dia,” ujar Cucu Somantri.

Luis Milla bukan satu-satunya kandidat pelatih anyar Timnas Indonesia. Sebelumnya, PSSI sudah menggelar pertemuan dan mendengar rancangan program dari pelatih Korea Selatan, Shin Tae-yong.

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, memenuhi undangan PSSI untuk mempresentasikan diri sebagai calon pelatih Timnas Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/11/2019).

Pelatih berusia 49 tahun ini memaparkan program latihan di hadapan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, dan kalangan pengurus lainnya.

Shin Tae-yong, memenuhi undangan PSSI ditemani dengan timnya. Pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu menjelaskan program latihan dan target jangka pendek dan panjang yang akan dilakukannya jika dipercaya menukangi Timnas Indonesia.

Shin Tae-yong bahkan berjanji akan membawa beberapa staf pelatih Timnas Korea Selatan yang berhasil membawa Tim U-20 tampil sebagai finalis Piala Dunia U-20 2019 di Polandia. Shin Tae-yong mengaku bersemangat dengan tawaran PSSI dan siap membantu Timnas Indonesia kembali disegani.

“Bagi saya ini adalah sebuah tantangan. Saya tahu atmosfer sepak bola Indonesia sangat luar biasa dengan suporter yang fanatik,” kata Shin Tae-yong seperti dikutip situs resmi PSSI.

“Saya juga melihat, pengurus federasi memiliki semangat yang kuat untuk membangun sepak bola Indonesia ke level yang tinggi,” lanjut Shin Tae-yong.

Sementara itu, Mochamad Iriawan berterima kasih kepada Shin Tae-yong yang bersedia memenuhi undangan PSSI. Pria yang akrab disapa Iwan Bule itu mengaku akan mempelajari presentasi Shin Tae-yong.

“Timnas Indonesia membutuhkan pelatih yang andal. Shin Tae-yong satu dari pelatih yang memiliki prestasi dunia. Tentu kami akan mempelajari presentasi programnya. Keputusan akan diambil secara faktual dan objektif melalui rapat exco,” ujar Iwan Bule.

Prestasi Luis Milla di Indonesia

Sekadar informasi, Luis Milla didapuk jadi pelatih Timnas Indonesia pada awal 2017 silam, menggantikan Alfred Riedl usai Piala AFF 2016. Ia menjalani tugas ganda, selain memegang timnas senior juga level U-22 serta U-23.

Tugas pertama yang dijalaninya memimpin pasukan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2017. Saat itu Evan Dimas dkk. hanya meraih medali perunggu.

Selanjutnya, nakhoda asal Spanyol itu mengarsiteki Timnas Indonesia U-23 di pentas Asian Games 2018. Tim Merah-Putih dibawanya lolos ke fase 16 besar, sebelum akhirnya dikalahkan Uni Emirat Arab lewat adu penalti.

Selepas itu kontraknya tak diperpanjang. PSSI kemudian menunjuk Bima Sakti, asisten Milla untuk menangani Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2016, yang hasilnya amat mengecewakan. Tim Garuda gagal melaju ke semifinal.

Sampai Kapan Jose Mourinho Jadi Mister Nice Guy?

29 November 0

 Jakarta Belum genap tiga pekan Jose Mourinho ditunjuk melatih Tottenham Hotspur, sudah dua kemenangan dikantunginya. Keunggulan 3-2 di kandang West Ham dan 4-2 atas Olympiacos Piraeus di London menjadi sebuah awal yang baik untuk The Special One.

Pelatih cerdas dan perlente asal Portugal ini tidak sekadar kembali ke winning habit tapi dia juga melakukan comeback dengan santun. Saya kini berani menyebutnya sebagai “Mister Nice Guy” karena tindak-tanduknya sangat terpuji: ia menyanjung kinerja para pemainnya, memberikan apresiasi kepada pendukung Spurs, dan ia pun bahkan memeluk ball boy yang jadi bagian dari skenario gol kedua Tottenham ke gawang Olympiacos lantaran sang bocah cepat memberikan bola pengganti ketika bola keluar dari lapangan.

Media-media Inggris awalnya menyebut bahwa Spurs terlalu gegabah. Pasalnya, proses hengkangnya Mauricio Pocchetino dari klub London Utara itu persis sama dengan ketika Mourinho terdepak dari Manchester United. Menjelang dipecat, mereka sama-sama mengkritik manajemen elite klub yang memasang tali kekang ketika bicara soal urusan jual-beli pemain, dan keduanya pun sama-sama mempersalahkan 1-2 pemain kunci sebagai biang kekalahan klub.

Memakai Kacamata Komentator

Well, penulis punya teori soal ini, di mana terlihat jelas sebenarnya petinggi Tottenham, Daniel Levy, sudah berhitung dan mengamati sepak terjang Mourinho dalam beberapa bulan terakhir di layar kaca. Ya, Jose meski tidak lagi melatih tapi kerap tampil sebagai komentator di Sky Sports Football dalam periode jeda di antara kariernya di Manchester United dan Tottenham.

Ketika tampil pertama kali untuk menjadi komentator Manchester United versus Chelsea musim ini dirinya mengatakan kepada programme host bahwa ia berharap tidak terlalu lama menjadi football pundit karena ia berharap segera mendapatkan tawaran melatih kembali. Jose pun menambahkan ia berharap bisa mengerti sudut pandang orang lain, terutama para football pundit, sesudah dirinya sempat memakai kacamata komentator.

Nah, di sini kuncinya. Mourinho ternyata sadar tidak bisa terus menerus membuang bom arogansi untuk menuai kontroversi demi menaikkan tensi laga dan akhirnya mempengaruhi jalannya pertandingan dan pada akhirnya berpengaruh juga pada hasil duel. Ia bahkan sebelumnya sempat dengan terbuka dalam sebuah konferensi pers menyerang balik ujaran kritis dari komentator Sky Sports Football lainnya, Jamie Redknapp dan Graeme Souness, menyoal dirinya dan klub yang tengah dilatihnya.

Hati-Hati dengan Perangkap Pewawancara

Berkat jam terbang sebagai narasumber sepak bola di televisi, Mourinho pun terpantau Levy menjadi sosok yang lebih lembut bertutur kata dan berempati pada orang lain. Karena tak suka dikritik, ia pun berhati-hati mengomentari kinerja wasit saat menjadi komentator laga antara Liverpool dan Manchester City.

Sependapat dengan koleganya di layar kaca saat itu, Roy Keane, Jose mengatakan alih-alih membicarakan kontroversi keputusan sang pengadil untuk tidak memberi hadiah penalti bagi The Citizens sebaiknya forum membicarakan betapa baiknya Liverpool bermain ketika menggilas City 3-1 saat itu. Sebagai pelatih Spurs sejauh ini, Mourinho pun cenderung tampil dengan positif dalam berbagai kesempatan. Tapi tunggu saja bagaimana reaksinya bila menghadapi pertanyaan sulit dari nyamuk pers. Ia perlu berhati-hati dengan perangkap yang dipasang para pewawancara.

Tidak akan ada yang meragukan kemampuan Jose Mourinho sebagai arsitek tim, yang di kancah Premier League saja sudah mengantungi tiga piala. Akan lebih mulia lagi baginya bila kualitas brilian sosoknya sebagai manusia terpancar dari tutur kata yang santun dan tidak menyakiti siapapun. Provokatif boleh, karena dunia sports tanpa bumbu provokasi ibarat sayur tanpa garam. Akan tetapi, tidaklah perlu menyerang pribadi atau institusi, apalagi sampai mengeluarkan ejekan. Welcome aboard Mister Nice Guy, dan jangan mudah terprovokasi!