Hasil Premier League: Kalah dari Brighton, Arsenal Kian Merana

05 December 0

Arsenal kian terpuruk. The Gunners kembali gagal meraih kemenangan setelah kalah dari Brighton & Hove Albion 1-2 pada lanjutan Premier League 2019-2020 di Emirates Stadium, Jumat (6/12/2019) dini hari WIB.

Alexandre Lacazette sempat membawa Arsenal menyamakan skor pada menit ke- 50’setelah Brighton mencetak gol via Adam Webster (’36). Namun, tuan rumah gagal menghindari nasib buruk setelah Neal Maupay (’80) merobek gawang Bernd Leno untuk kedua kali.

Dengan hasil ini, Arsenal urung memetik poin dalam sembilan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi. Posisi mereka di klasemen sementara juga stagnan.

Klub London Utara itu masih menempati peringkat 10 klasemen dengan raihan 19 angka dari 15 pertandingan. The Gunners tertinggal 10 poin di belakang Chelsea yang menguasai posisi terakhir zona Liga Champions alias empat besar.

Sebaliknya, Brighton naik ke urutan 13 klasemen. The Seagulls meninggalkan ancaman zona degradasi dan hanya tertinggal satu nilai di belakang Arsenal.

Arsenal menguasai awal babak pertama. Namun tuan rumah kesulitan menciptakan peluang berarti.

Sementara Brighton perlahan menguasai pertandingan dan beberapa kali mengancam gawang The Gunners. Salah satunya tendangan Maupay yang menguji kesigapan Leno.

Di atas angin, Brighton akhinya unggul melalui Webster. Memanfaatkan kemelut di kotak penalti, bek berusia 24 tahun tersebut menendang bola liar untuk membawa tim tamu memimpin.

Arsenal hampir membalas sebelum berakhirnya babak pertama. Namun tandukan Alexandre Lacazette masih bisa dimentahkan Matthew Ryan.

Dalam keadaan tertinggal, manajer interim Arsenal Freddie Ljungberg memasukkan Nicolas Pepe di awal babak kedua. Perubahan taktik itu berbuah manis. Arsenal menyamakan kedudukan setelah Lacazette menanduk sepak pojok Mesut Ozil.

Tidak tinggal diam, Aaron Mooy mengancam bagi tim tamu. Sementara David Luiz hampir membawa Arsenal memimpin jika golnya tidak dianulir video assistant referee karena diciptakan dalam posisi offside.

Brighton akhirnya kembali unggul setelah Maupay menyundul umpan silang Mooy. Arsenal kemudian coba menyelamatkan angka. Alih-alih demikian, justru mereka hampir kalah lebih besar jika penetrasi Leandro Trossard membuahkan hasil.

Susunan Pemain

Arsenal: Leno; Bellerin, Sokratis, David Luiz, Kolasinac (Tierney 73); Willock (Pepe 46), Xhaka, Torreira; Ozil; Aubameyang, Lacazette (Martinelli 77)

Brighton: Ryan; Webster, Dunk, Stephens; Alzate (Duffy 88), Propper (Trossard 80), Mooy, Gross, Burn; Maupay, Connolly (Montoya 76)

3 Pertimbangan yang Bikin Manchester United Tak Akan Pecat Solksjaer

04 December 0

Dua manajer Pemier League resmi dipecat pada akhir tahun 2019. Mereka adalah Mauricio Pochettino dan Unai Emery.

Pochettino didepak Tottenham Hotspur dari kursi kepelatihan pada Selasa (20/11/2019). Sementara Emery diberhentikan dari jabatannya sebagai manajer Arsenal pada Jumat (29/11/2019).

Mencuatnya keputusan tegas dua klub besar Inggris itu kemudian memunculkan spekulasi baru. Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, disebut menjadi calon korban pemecatan selanjutnya.

Di bawah asuhan pria asli Norwegia itu, MU tampil tak meyakinkan. Saat ini, MU bercokol di posisi sepuluh klasemen sementara.

Setan Merah hanya mencatatkan 4 kemenangan, enam hasil imbang, dan empat kekalahan dalam 14 pertandingan yang telah dilalui. Kabarnya, torehan prestasi itu jadi catatan terburuk Manchester United sejak 30 tahun terakhir.

Rumor pemecatan Ole Gunnar  Solskjaer pun mencuat ke permukaan. Metro bahkan pernah mengabarkan rumor Solskjaer bakal diberhentikan dari kursi kepelatihan jika mendulang hasil mengecewakan kala berusa Tottenham.

Meski demikian, rumor hanya sebatas rumor. Melansir dari Give Me Sport, ada tiga alasan masuk akal yang bikin MU tak akan memecat Ole Gunnar Solskjaer.

Apa saja alasan masuk akal tersebut Solskjaer akan dipertahankan Manchester United? Berikut Bola.com telah merangkumnya untuk Anda.

1. Tak Ada Kandidat yang Sesuai

Menurut laporan, Ole Gunnar Solskjaer merupakan pelatih yang paling pas menangani Manchester United. Misinya jelas. Dia hanya butuh waktu untuk membuktikan misi regenerasi yang sudah dibawanya sejak awal musim.

Salah satu wartawan asal Inggris, Daniel Taylor, juga sependapat dengan hal tersebut. Bahkan, Taylor melaporkan posisi Solksjaer masih aman, setidaknya sampai akhir musim.

Sebelumnya, salah satu pemain Manchester United juga mengatakan hal yang sama. Menurut Rashford, Solskjaer adalah pelatih yang paling sesuai dengan kondisi Manchester United.

“Ole adalah pria yang hebat dan dia memiliki misi yang bagus untuk klub. Menurut saya, tidak ada orang yang lebih berdedikasi dari Ole,” kata Rashford melansir The Sun beberapa waktu lalu.

2. Suporter Masih Cinta Solskjaer

Meski Manchester United tampil bapuk di bawah asuhan Ole Gunnar Solsjaer, pria asal Norwegia masih cukup dicintai suporter. Kondisi itu tak sama dengan respons suporter Arsenal terhadap Unai Emery.

Emery begitu dibenci di Emirates. Tagar #EmeryOut terus didegungkan suporter baik di tribune ataupun melalui cuitan di Twitter. Kasus tersebut berbeda dengan Solsjaer.

Kebencian suporter terhadap Solskjaer disebut tak separah itu. Menurut sejumlah pengamat, bapuknya MU musim ini tak semata-mata kesakahan Ole Gunnar Solskjaer.

3. Musuh Bersama Manchester United Bukan Ole Gunnar Solskjaer

elain itu, musuh bersama fans Manchester United bukanlah Ole Gunnar Solskjaer. Pelatih asli Norwegia itu disebut hanya korban dari semrawutnya manajemen Manchester United di bawah keluarga Glazer.

Beberapa waktu lalu, media Inggris The Sun bahkan menyebut keluarga Glazers dan Woodward sebagai musuh bersama nomor satu di Old Trafford. Menurut media tersebut, fans memusuhi keduanya karena tak mencari pengganti untuk Lukaku dan Herrera.

Keputusan itu membuat komposisi skuat begitu berantakan. Mengacu pada hal tersebut, fans lebih ingin Keluarga Glazer, termasuk Ed Woodward, pergi ketimbang mengusir Solksjaer.

Kalahkan Virgil van Dijk dan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi Rebut Ballon d’Or 2019

03 December 0

Jakarta – Bintang Barcelona Lionel Messi terpilih sebagai penerima Ballon d’Or 2019, Senin (2/12/2019) malam waktu Prancis. Messi menjadi pemain terbaik dunia usai mengalahkan penggawa Liverpool, Virgil van Dijk dan penyerang Juventus, Cristiano Ronaldo.

Ini menjadi kali keenam pemain 32 tahun itu mendapatkan trofi diberikan majalah France Football itu. Lionel Messi sekaligus menjadi orang pertama di dunia yang bisa meraih Ballon d’Or enam kali

Pria asal Argentina itu mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang bersama Cristiano Ronaldo dengan lima gelar. Messi pernah meraih Ballon d’Or di tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2015.

Terpilihnya Messi sebagai peraih Ballon d’Or 2019 cukup mengejutkan. Prestasi Messi di tahun 2019 tidak terlalu cemerlang dibanding para pesaingnya.

Lionel Messi hanya mempersembahkan satu gelar untuk Barcelona yakni juara La Liga ditambah 46 gol dan 17 assists. Sedangkan Van Dijk sukses membawa Liverpool menjuarai Liga Champions

Absen

Cristiano Ronaldo sendiri memilih tidak hadir di malam penghargaan Ballon d’Or 2019 di Paris. Kabarnya Ronaldo sudah mengetahui tidak akan menjadi pemenang.

Pemain asal Portugal itu hanya finis di posisi empat. Padahal sepanjang 2019, Ronaldo meraih dua gelar bergengsi yakni juara Serie A bersama Juventus dan UEFA Nations League di timnas Portugal.

Ronaldo sendiri lebih tertarik datang ke malam penghargaan Gran Gala yang merupakan penghargaan untuk para pemain di Liga Italia. Kebetulan Gran Gala digelar pada Senin (2/12/2019) malam.

Juventus Bermain Tanpa Jiwa dan Nalar

02 December 0

Pelatih Juventus, Maurizio Sarri, menyebut timnya bermain tanpa jiwa dan nalar ketika menghadapi Sassuolo. Juventus hanya meraih satu poin dari laga yang berlangsun di Allianz Stadium tersebut.

Juventus sempat tertinggal dari Sassuolo. Beruntung, Cristiano Ronaldo bisa mencetak gol melalui titik putih.

Sarri mengatakan kalau skuatnya tidak bermain jelek, namun ada beberapa kesalahan mendasar yang seharusnya tidak terjadi.

“Kami tak tampil negatif, namun kami membuka terlalu banyak ruang pada laga tadi. Kami terlalu mudah kehilangan bola dan seperti tidak memaksimalkan nalar dalam pertandingan,” ujar Sarri.

“Pada babak kedua, penampilan kami membaik. Namun, kami kurang fokus untuk meraih gol.”

“Kami membuat kesalahan fatal karena kebobolan akibat terlambat dalam melakukan transisi bertahan. Kami sangat lamban dalam mengembangkan permainan.”

“Saya rasa hal itu dikarenakan Juventus baru melewati dua laga yang sangat menyita perhatian. Kami seperti bermain tanpa jiwa pada laga tadi,” ungkap Sarri.

Hasil imbang melawan Sassuolo membuat Juventus harus merelakan posisi puncak klasemen kepada Inter Milan. Juventus tertinggal satu poin dari rivalnya tersebut.

Gonzalo Higuian, Cristiano Ronaldo, dan Paulo Dybala

Hasil Drawing Piala Eropa 2020: Neraka di Grup F

30 November 0

Pembagian grup Piala Eropa 2020 telah dilakukan. Sebanyak 20 negara sudah terbagi dalam enam grup. Grup F menjadi grup paling mengerikan karena diisi oleh raksasa Eropa.

Drawing Piala Eropa 2020 dilakukan di Bucharest, Rumania, Sabtu (30/11/2019) waktu setempat, dan dihadiri oleh sejumlah figur terkenal sepak bola, seperti Francesco Totti.

Hasil Drawing Piala Eropa 2020

Grup A

  • Turki
  • Italia
  • Wales
  • Swiss

Grup B

  • Denmark
  • Finlandia
  • Belgia
  • Rusia

Grup C

  • Belanda
  • Ukraina
  • Austria
  • (Pemenang play-off D atau A)

Grup D

  • Inggris
  • Kroasia
  • (Pemenang play-off C)
  • Republik Ceko

Grup E

  • Spanyol
  • Swedia
  • Polandia
  • (Pemenang play-off B)

Grup F

  • (Pemenang play-off A atau D)
  • Portugal
  • Prancis
  • Jerman

Target Tinggi Menanti Jika Luis Milla Kembali Tangani Timnas Indonesia

30 November 0
olenation, Link alternatif Olenation terbaru serta promosi-promosi terbaik yang dimiliki Bandar Bola Terbaik dan Terpercaya.

PSSI memasang target tinggi kepada Luis Milla jika ia kembali terpilih sebagai pelatih Timnas Indonesia. Induk sepak bola pimpinan Mochamad Iriawan itu mewajibkan Luis Milla memberikan gelar Piala AFF 2020.

Target tersebut diungkapkan PSSI dalam pertemuan dengan Luis Milla yang digelar di New World Manila Bay Hotel, Jumat malam (29/11/2019). Dalam pertemuan tersebut, pelatih asal Spanyol memaparkan rancangan program yang akan dilakukannya jika dipercaya menukangi Timnas Garuda

Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Somantri, mengaku pihaknya sengaja memberikan target tinggi karena menganggap Luis Milla sudah mengenal skuat Timnas Indonesia. Dengan keunggulan tersebut, Luis Milla diharapkan tinggal meneruskan saja program yang sudah dilakukannya bersama Timnas U-23 terdahulu.

“Kami tadi sudah menyampaikan kepada Luis Milla, Anda kan sudah melatih di sini hampir 2 tahun atau 20 bulan kalau gak salah. Artinya Anda sudah mengenal pemain kami sehingga dengan dia sudah mengenal pemain kita, pengalaman cukup lama, sehingga manakala kita panggil lagi dia untuk melatih kita, kita targetnya dong,” kata Cucu Somantri kepada wartawan.

“Kalau melatih lagi dari awal buat apa. Dia kan sudah mengenal selama ini sehingga kami menuntut apakah Anda sanggup untuk menjadikan juara paling tidak di AFF 2020. itu target kita yang disampaikan kepada dia,” ujar Cucu Somantri.

Luis Milla bukan satu-satunya kandidat pelatih anyar Timnas Indonesia. Sebelumnya, PSSI sudah menggelar pertemuan dan mendengar rancangan program dari pelatih Korea Selatan, Shin Tae-yong.

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, memenuhi undangan PSSI untuk mempresentasikan diri sebagai calon pelatih Timnas Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/11/2019).

Pelatih berusia 49 tahun ini memaparkan program latihan di hadapan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, dan kalangan pengurus lainnya.

Shin Tae-yong, memenuhi undangan PSSI ditemani dengan timnya. Pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu menjelaskan program latihan dan target jangka pendek dan panjang yang akan dilakukannya jika dipercaya menukangi Timnas Indonesia.

Shin Tae-yong bahkan berjanji akan membawa beberapa staf pelatih Timnas Korea Selatan yang berhasil membawa Tim U-20 tampil sebagai finalis Piala Dunia U-20 2019 di Polandia. Shin Tae-yong mengaku bersemangat dengan tawaran PSSI dan siap membantu Timnas Indonesia kembali disegani.

“Bagi saya ini adalah sebuah tantangan. Saya tahu atmosfer sepak bola Indonesia sangat luar biasa dengan suporter yang fanatik,” kata Shin Tae-yong seperti dikutip situs resmi PSSI.

“Saya juga melihat, pengurus federasi memiliki semangat yang kuat untuk membangun sepak bola Indonesia ke level yang tinggi,” lanjut Shin Tae-yong.

Sementara itu, Mochamad Iriawan berterima kasih kepada Shin Tae-yong yang bersedia memenuhi undangan PSSI. Pria yang akrab disapa Iwan Bule itu mengaku akan mempelajari presentasi Shin Tae-yong.

“Timnas Indonesia membutuhkan pelatih yang andal. Shin Tae-yong satu dari pelatih yang memiliki prestasi dunia. Tentu kami akan mempelajari presentasi programnya. Keputusan akan diambil secara faktual dan objektif melalui rapat exco,” ujar Iwan Bule.

Prestasi Luis Milla di Indonesia

Sekadar informasi, Luis Milla didapuk jadi pelatih Timnas Indonesia pada awal 2017 silam, menggantikan Alfred Riedl usai Piala AFF 2016. Ia menjalani tugas ganda, selain memegang timnas senior juga level U-22 serta U-23.

Tugas pertama yang dijalaninya memimpin pasukan Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2017. Saat itu Evan Dimas dkk. hanya meraih medali perunggu.

Selanjutnya, nakhoda asal Spanyol itu mengarsiteki Timnas Indonesia U-23 di pentas Asian Games 2018. Tim Merah-Putih dibawanya lolos ke fase 16 besar, sebelum akhirnya dikalahkan Uni Emirat Arab lewat adu penalti.

Selepas itu kontraknya tak diperpanjang. PSSI kemudian menunjuk Bima Sakti, asisten Milla untuk menangani Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2016, yang hasilnya amat mengecewakan. Tim Garuda gagal melaju ke semifinal.

Sampai Kapan Jose Mourinho Jadi Mister Nice Guy?

29 November 0

 Jakarta Belum genap tiga pekan Jose Mourinho ditunjuk melatih Tottenham Hotspur, sudah dua kemenangan dikantunginya. Keunggulan 3-2 di kandang West Ham dan 4-2 atas Olympiacos Piraeus di London menjadi sebuah awal yang baik untuk The Special One.

Pelatih cerdas dan perlente asal Portugal ini tidak sekadar kembali ke winning habit tapi dia juga melakukan comeback dengan santun. Saya kini berani menyebutnya sebagai “Mister Nice Guy” karena tindak-tanduknya sangat terpuji: ia menyanjung kinerja para pemainnya, memberikan apresiasi kepada pendukung Spurs, dan ia pun bahkan memeluk ball boy yang jadi bagian dari skenario gol kedua Tottenham ke gawang Olympiacos lantaran sang bocah cepat memberikan bola pengganti ketika bola keluar dari lapangan.

Media-media Inggris awalnya menyebut bahwa Spurs terlalu gegabah. Pasalnya, proses hengkangnya Mauricio Pocchetino dari klub London Utara itu persis sama dengan ketika Mourinho terdepak dari Manchester United. Menjelang dipecat, mereka sama-sama mengkritik manajemen elite klub yang memasang tali kekang ketika bicara soal urusan jual-beli pemain, dan keduanya pun sama-sama mempersalahkan 1-2 pemain kunci sebagai biang kekalahan klub.

Memakai Kacamata Komentator

Well, penulis punya teori soal ini, di mana terlihat jelas sebenarnya petinggi Tottenham, Daniel Levy, sudah berhitung dan mengamati sepak terjang Mourinho dalam beberapa bulan terakhir di layar kaca. Ya, Jose meski tidak lagi melatih tapi kerap tampil sebagai komentator di Sky Sports Football dalam periode jeda di antara kariernya di Manchester United dan Tottenham.

Ketika tampil pertama kali untuk menjadi komentator Manchester United versus Chelsea musim ini dirinya mengatakan kepada programme host bahwa ia berharap tidak terlalu lama menjadi football pundit karena ia berharap segera mendapatkan tawaran melatih kembali. Jose pun menambahkan ia berharap bisa mengerti sudut pandang orang lain, terutama para football pundit, sesudah dirinya sempat memakai kacamata komentator.

Nah, di sini kuncinya. Mourinho ternyata sadar tidak bisa terus menerus membuang bom arogansi untuk menuai kontroversi demi menaikkan tensi laga dan akhirnya mempengaruhi jalannya pertandingan dan pada akhirnya berpengaruh juga pada hasil duel. Ia bahkan sebelumnya sempat dengan terbuka dalam sebuah konferensi pers menyerang balik ujaran kritis dari komentator Sky Sports Football lainnya, Jamie Redknapp dan Graeme Souness, menyoal dirinya dan klub yang tengah dilatihnya.

Hati-Hati dengan Perangkap Pewawancara

Berkat jam terbang sebagai narasumber sepak bola di televisi, Mourinho pun terpantau Levy menjadi sosok yang lebih lembut bertutur kata dan berempati pada orang lain. Karena tak suka dikritik, ia pun berhati-hati mengomentari kinerja wasit saat menjadi komentator laga antara Liverpool dan Manchester City.

Sependapat dengan koleganya di layar kaca saat itu, Roy Keane, Jose mengatakan alih-alih membicarakan kontroversi keputusan sang pengadil untuk tidak memberi hadiah penalti bagi The Citizens sebaiknya forum membicarakan betapa baiknya Liverpool bermain ketika menggilas City 3-1 saat itu. Sebagai pelatih Spurs sejauh ini, Mourinho pun cenderung tampil dengan positif dalam berbagai kesempatan. Tapi tunggu saja bagaimana reaksinya bila menghadapi pertanyaan sulit dari nyamuk pers. Ia perlu berhati-hati dengan perangkap yang dipasang para pewawancara.

Tidak akan ada yang meragukan kemampuan Jose Mourinho sebagai arsitek tim, yang di kancah Premier League saja sudah mengantungi tiga piala. Akan lebih mulia lagi baginya bila kualitas brilian sosoknya sebagai manusia terpancar dari tutur kata yang santun dan tidak menyakiti siapapun. Provokatif boleh, karena dunia sports tanpa bumbu provokasi ibarat sayur tanpa garam. Akan tetapi, tidaklah perlu menyerang pribadi atau institusi, apalagi sampai mengeluarkan ejekan. Welcome aboard Mister Nice Guy, dan jangan mudah terprovokasi!

Liverpool Berbagi Poin dengan Napoli, Persaingan Grup E Liga Champions Makin Menarik

28 November 0

Liverpool harus puas berbagi poin dengan Napoli dalam laga kelima Grup E Liga Champions. Bermain imbang 1-1 di Anfield, Kamis (28/11/2019), Liverpool dan Napoli masih belum bisa memastikan diri melangkah ke 16 besar Liga Champions dan bersaing dengan Red Bull Salzburg hingga matchday terakhir.

Napoli berhasil mengejutkan publik Anfield lebih dulu. Tim asal Italia itu membuka keunggulan lewat gol yang dicetak Dries Mertens pada menit ke-21. Mertens mencetak gol setelah menerima umpan dari Giovanni di Lorenzo.

Beruntung Liverpool mampu menggagalkan kemenangan Napoli di Anfield. The Reds terselamatkan dari kekalahan berkat gol yang dicetak oleh Dejan Lovren pada menit ke-65, yang memaksimalkan umpan dari James Milner.

Hasil imbang itu membuat Liverpool tetap berada di puncak klasemen Grup E Liga Champions dengan 10 poin dari lima laga. Napoli mengekor di posisi kedua dengan hanya terpaut satu poin saja.

Kondisi tersebut membuat persaingan di Grup E makin menarik karena di pertandingan lain, Salzburg berhasil meraih kemenangan 4-1 atas Genk. Kemenangan tersebut membuat Salzburg mengekor di posisi ketiga dengan tujuh poin, yang artinya tim asal Austria itu juga masih bisa menggagalkan Liverpool atau pun Napoli lolos ke 16 besar Liga Champions.

Paulo Dybala Bawa Juventus Bungkam Atletico, PSG Gagalkan Misi Balas Dendam Real Madrid

26 November 0

Juventus berhasil meraih kemenangan saat menjamu Atletico Madrid di laga kelima Grup D Liga Champions, Rabu (27/11/2019). Sementara itu, Real Madrid yang sempat unggul dua gol harus puas bermain imbang dengan Paris Saint Germain di Stadion Santiago Bernabeu.

Bianconeri memastikan diri meraih tiga poin dan belum terkalahkan dalam lima laga Grup D Liga Champions setelah menang tipis 1-0 atas Atletico Madrid di Allianz Stadium. Gol tunggal Paulo Dybala pada masa injury time babak pertama menjadi satu-satunya pembeda dalam laga kali ini.

Kemenangan ini membuat Juventus kini mengoleksi 13 poin dari lima pertandingan di Grup D Liga Champions dan kukuh di puncak klasemen, meninggalkan Atletico Madrid yang berada di peringkat kedua dengan selisih enam poin.

Atletico Madrid berada di peringkat kedua dengan tujuh poin, hanya unggul satu poin dari Bayer Leverkusen yang beberapa jam sebelumnya berhasil memastikan kemenangan 2-0 atas Lokomotiv Moscow.

Dengan begitu, Atletico Madrid dan Bayer Leverkusen akan memperebutkan satu jatah tiket terakhir dari Grup D Liga Champions pada pertandingan terakhir fase grup yang digelar 11 Desember mendatang, di mana Bayer Leverkusen akan menjamu Juventus sementara Atletico Madrid menjamu Lokomotiv Moscow.

Sempat Unggul 2 Gol, Real Madrid Gagal Balas Dendam

Sementara itu, dari Grup A Liga Champions, Real Madrid gagal membalaskan kekalahan mereka di Paris kala menjamu PSG di Santiago Bernabeu. Padahal Real Madrid bermain begitu meyakinkan di awal laga dengan lebih dulu unggul dua gol.

Dua gol Real Madrid diborong oleh Karim Benzema, masing-masing pada menit ke-17 dan 79′. Unggul dua gol jelang memasuki 10 menit terakhir pertandingan tampaknya menjadi ujian yang sebenarnya bagi fokus Real Madrid.

PSG justru berhasil mempertipis jarak dengan gol Kylian Mbappe pada menit ke-81. Bahkan PSG hanya butuh dua menit berselang untuk menyamakan kedudukan melalui Pablo Sarabia.

Hingga pertandingan berakhir, Real Madrid dan PSG tak lagi mencetak gol. Kedudukan imbang 2-2 menjadi penutup pertandingan, di mana Los Blancos gagal membalas kekalahan 0-3 yang mereka alami di Paris.

Namun, Real Madrid telah memastikan diri melangkah ke-16 besar Liga Champions sebelum laga ini dimulai. Hasil imbang yang diraih Galatasaray dan Club Brugge beberapa jam sebelum Real Madrid menjamu PSG memastikan perolehan poin Los Blancos juga tak terkejar lagi oleh kedua tim tersebut.

Menuju Sukses Piala Dunia U-20 Indonesia 2021: Klub Kuat, Timnas Kuat

26 November 0

 

Sidang FIFA pada 24 Oktober 2019  memutuskan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2021. Keputusan FIFA ini tentu sangat membanggakan.

Di tengah berbagai pekerjaan pembinaan sepak bola usia muda yang tengah digalakkan giat oleh PSSI, masyarakat sepak bola Indonesia mendapatkan “bonus” event internasional prestisius, Piala Dunia U-20 2021Event yang mampu memberikan “percepatan” agar tim nasional junior berlaga di Piala Dunia Junior dan bersanding sejajar dengan negara sepak bola mapan.

Sebagai orang yang turut berkecimpung dalam pembinaan sepak bola usia muda selama hampir 15 tahun terakhir, perasaan penulis campur aduk deg-deg-ser menyambut berita ini. Perasaan awal tentu saja bahagia bukan main. Pergelaran internasional sekelas Piala Dunia U-20 tentu akan menjadi momentum untuk percepatan peningkatan prestasi sepak bola Indonesia.

Sudah pasti seluruh pemain, pelatih, wasit, pengurus, dan fans akan sangat antusias menyambut event ini. Jutaan anak Indonesia yang bermimpi ingin menjadi pesepak bola dijamin makin bersemangat latihan, karena dengan Indonesia 2021, mimpi mereka menjadi nyata dan hadir di depan mata langsung.

Tentu, kebahagiaan penting lainnya adalah jaminan bahwa Piala Dunia U-20 2021 akan mendorong pembangunan infrastruktur sepak bola berupa stadion dan tempat latihan berstandar internasional.

Sementara di sisi lain, Indonesia 2021 juga menyimpan kecemasan bagi penulis. Kecemasan itu berupa pertanyaan besar, “Setelah Piala Dunia U-20 2021, terus apa?”

Pertanyaan cemas ini didasari fakta beberapa tuan rumah Piala Dunia U-20 sebelumnya tidak mendapatkan efek positif apa pun terhadap prestasi tim nasional seniornya. Contoh paling dekat adalah Malaysia saat menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 1997. Timnas senior Malaysia, ya gitu-gitu aja.

Kecemasan ini menjadi dering alarm bahaya. Jangan sampai sukses Indonesia dalam melaksanakan Piala Dunia U-20 2021 berhenti begitu saja.

Lalu, jangan sampai, katakanlah sukses Timnas Indonesia U-20 di Indonesia 2021 nantinya tidak memberi efek positif apa pun terhadap prestasi timnas senior setelahnya. Pada akhirnya, puncak dari segala kerja pembinaan sepak bola adalah prestasi tim nasional senior.

Kecemasan lain yang menyergap adalah kebiasaan buruk bangsa kita mengerahkan seluruh dana, daya, usaha, dan upaya hanya kepada satu event besar.

Indonesia 2021 harus jadi inspirasi penyemangat untuk seluruh aktivitas sepak bola, dari mulai timnas semua kelompok, liga profesional-amatir, elite pro academy, pendidikan pelatih-wasit, dll. Jangan sampai konsentrasi berlebih terhadap Indonesia 2021 membuat kita seolah menganak-tirikan aktivitas lainnya.

Timnas Indonesia U-20 tidak boleh menjadi anak emas dibandingkan timnas lainnya hanya karena Indonesia 2021. PSSI juga harus terus mengerahkan dana, daya, usaha, dan upaya kepada semua timnas secara bijak dan proporsional.

Timnas Indonesia U-16 misalnya. Mereka juga harus terus diupayakan untuk bisa lolos ke Piala Dunia U-17 di Peru 2021. Demikian juga dengan Timnas Indonesia senior, Timnas Indonesia U-23, Timnas Wanita Indonesia dan Timnas Putri Indonesia U-16. Ingat, seluruh tim nasional itu penting!

Tidak untuk TC Jangka Panjang

Kecemasan menyikapi Indonesia 2021 makin menjadi saat banyak pihak mewacanakan agar Timnas Indonesia U-20 melakukan persiapan gaya jadul bernama TC jangka panjang.

Idenya sederhana, PSSI diminta membentuk Super Team berisikan 25 pemain, kemudian diberi pelatih nomor satu, lalu dikirim berlatih dan uji coba di negara sepak bola maju. Katakanlah 3 bulan di Italia, 3 bulan di Inggris, 3 bulan di Belanda, 3 bulan di Spanyol dan seterusnya.

Ide ini memang terlihat sederhana dan luks. Ibarat abracadabra sulap, hasil positif model TC ini bisa jadi akan terlihat instan.

Dengan model ini, diyakini Timnas Indonesia U-20 bisa meraih hasil maksimal di Indonesia 2021. Mungkin menembus 8 besar, semifinal atau final sekalipun. Hanya saja, kalaupun cara instan ini diyakini akan efektif, mungkin PSSI atau pemerintah perlu berpikir seribu kali untuk melakukannya. Mengapa?

Problem terbesar TC jangka panjang adalah kita terfokus menggantungkan harapan prestasi di Indonesia 2021 hanya dengan berinvestasi kepada 25 orang.

Bagaimana mungkin kita akan mendapatkan 11 pemain terbaik apabila hanya ada 25 orang yang berkompetisi untuk memperebutkannya. Padahal sepak bola adalah permainan dinamis, di mana kita membutuhkan ratusan pemain yang berkompetisi untuk menjadi 11 terbaik.

Hal negatif berikutnya dari TC jangka panjang adalah 25 pemain tersebut banyak berlatih dan sedikit bertanding dalam kompetisi formal. Sebagian besar waktu akan digunakan untuk berlatih dan uji coba non-formal. Pada akhirnya pemain kita akan sulit bersaing dengan pemain negara lain yang setiap akhir pekan selalu berkompetisi. Kebosanan dalam TC pun akan melanda.

Terakhir, hal negatif dari TC jangka panjang adalah tidak adanya legacy yang ditinggalkan PSSI pasca Indonesia 2021. Struktur fondasi rumah sepak bola akan hancur karena klub akan kehilangan pemain terbaiknya dalam waktu panjang.

Akademi klub akan berjalan di tempat. Kompetisi usia muda hambar kehilangan gairah. Kebijakan yang mengatasnamakan tim nasional tanpa disadari malah menggembosi tim nasional itu sendiri pada masa mendatang. Sebab klub yang kuat akan membentuk tim nasional yang kuat!

Memberikan Legacy

Indonesia 2021 harus menjadi momentum untuk membangun fondasi rumah sepak bola yang solid. Tujuan utama pembangunan fondasi rumah sepak bola adalah untuk memberikan legacy di masa mendatang, di mana setelah Indonesia 2021, sepak bola Indonesia akan makin berkembang, sehingga pada akhirnya Timnas Indonesia senior juga bisa menembus level dunia.

PSSI harus berpikir kreatif keluar dari kotak. Perlu dirumuskan suatu strategi di mana Timnas Indonesia U-20 bisa berprestasi di Indonesia 2021, tapi melalui peningkatan kinerja akademi klub, kualitas kompetisi usia muda, pendidikan pelatih, dan juga pengembangan grassroot.

Artinya penting untuk PSSI membuat suatu program terintegrasi dan holistic, dengan menggunakan Indonesia 2021 sebagai basis pemicu.

Penulis menawarkan beberapa gagasan inovatif yang layak untuk diimplementasi PSSI demi mencapai prestasi Timnas Indonesia U-20 di Indonesia 2021. Sekaligus untuk memperkuat akademi klub, kompetisi usia muda, pendidikan pelatih, dan grassroot.

  • Wajib Memberi Kesempatan untuk Pemain U-20 di Liga 1

PSSI dapat mengeluarkan regulasi wajib memainkan minimal 2 orang pemain U-20 selama minimal 45 menit di Liga 1. Regulasi ini akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pemain U-20 untuk merasakan atmosfer kompetisi level tinggi.

Pelatih Timnas Indonesia U-20 paling tidak setiap pekannya akan melihat minimal 36 pemain U-20 yang bertanding secara kompetitif di kompetisi senior. Matang di Kompetisi!

  • TC Buka-Tutup

PSSI bisa melakukan TC berjalan dengan sistim buka–tutup. Katakanlah dibuat dengan format 3 minggu kompetisi dan 1 minggu TC. Pada saat tertentu, Timnas Indonesia U-20 dapat melakukan TC lebih panjang berdurasi 2-3 pekan di negara sepak bola maju atau mengikuti turnamen.

Harapannya, pemain akan ditempa oleh kompetisi, tetapi chemistry dan level komunikasi tim tetap terbangun optimal melalui TC rutin berkala.

  • Ekspansi dan Modifikasi Kompetisi Elite Pro Academy

Indonesia 2021 harus jadi momentum meningkatkan kualitas kompetisi elite pro academy. Ekspansi bisa dilakukan dengan menambah jumlah pertandingan di Liga 1 U-20, U-18, dan U-16.

Alokasi dana untuk TC jangka panjang bisa direlokasi untuk subsidi kompetisi elite pro academy. Selain ekspansi, PSSI juga perlu melakukan modifikasi kelompok usia untuk memastikan target scouting pemain tim nasional terjamin menit bermainnya dengan lawan kompetitif. Misal bisa dilakukan berbagai inovasi berikut:

  • Liga 1 U20
    • Kelahiran 2000, Joker 2 pemain 1998-1999.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2001 wajib main selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U-20).
  • Liga 1 U18
    • Kelahiran 2002-2003.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2004 wajib bermain selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U-17).
  • Liga 1 U16
    • Kelahiran 2004-2005.
    • Minimal ada 3 pemain kelahiran 2005 wajib main selama 90 menit (target scouting Timnas Indonesia U19 untuk 2021)

 

  • Melibatkan Pelatih Akademi di TC Timnas Junior

Untuk meningkatkan kualitas pelatih dan latihan di klub, PSSI bisa melibatkan pelatih akademi pada setiap TC tim nasional. Katakanlah saat TC tim nasional, kompetisi diliburkan.

Selain memanggil pemain, PSSI juga memanggil pelatih akademi 18 klub Liga 1 untuk mengikuti TC tim nasional. Tujuannya agar pelatih akademi dapat belajar dari pola latihan di tim nasional dan memuluskan penyelarasan program latihan tim nasional dan akademi klub. Tanpa disadari, kegiatan TC timnas sekaligus menjadi program kursus pelatih yang berkualitas.

  • Mentoring Visit ke Akademi Klub

Pada saat TC tim nasional selesai, pemain akan kembali ke klub untuk berkompetisi selama 3 pekan. Pada masa itu, pelatih tim nasional punya waktu untuk terjun langsung ke akademi klub untuk melakukan kunjungan dan mentoring.

Seluruh pelatih tim nasional akan ditugaskan berkeliling ke 18 akademi klub Liga 1. Melalui mentoring ini, pelatih tim nasional dapat memberikan asistensi agar kualitas latihan di akademi klub setara dengan di tim nasional. Pelatih tim nasional juga berkesempatan untuk memonitor perkembangan seluruh pemain yang ada di akademi klub.

  • Modifikasi LOTG

Inovasi terakhir adalah inovasi FIFA Laws of the Game, demi meningkatkan intensitas dan level of play kompetisi elite pro academy. Caranya adalah dengan memperbolehkan pemain melakukan quick dribble untuk bola out dan free kick.

Modifikasi peraturan permainan ini terbukti sukses diimplementasi di Belanda. Riset KNVB menyatakan bahwa real playing time naik secara signifikan. Ini tentu akan membantu tetap terjaganya intensitas permainan. Silakan cek visualnya di: https://youtu.be/1SH6Uy1jFls

Inovasi lainnya bisa kita contoh dari liga usia muda di Spanyol, dimana pemain yang terkena kartu kuning diharuskan keluar lapangan selama 5 menit. Sehingga tim yang pemainnya kena kartu kuning harus main dengan lebih sedikit pemain.

Sanksi keras pada kartu kuning ini terbukti menurunkan jumlah foul. Efeknya, makin sedikit foul, berarti makin jarang permainan terhenti. Lagi-lagi intensitas permainan akan meningkat.

 

Fondasi Kuat

Dengan meninggalkan kebijakan TC jangka panjang, serta mengimplementasi berbagai inovasi di atas, diyakini Timnas Indonesia akan berprestasi optimal. Pada saat yang bersamaan kualitas akademi klub, kompetisi elite pro academy, serta kepelatihan akan meningkat tajam.

PSSI bukan cuma berharap Timnas Indonesia U-20 berprestasi di Indonesia 2021, tapi PSSI telah membangun fondasi rumah sepak bola yang kuat.

Inilah legacy yang dimaksud. Piala Dunia U-20 Indonesia 2021 tidak menjadi tujuan akhir, melainkan ini hanyalah momentum awal. Ya, dengan fondasi akademi klub yang kuat, pasti akan tercipta tim nasional yang kuat pula.

Ini merupakan jaminan bahwa sepak bola Indonesia akan menuju prestasi yang lebih tinggi pasca Indonesia 2021. Mari bekerja keras membangun rumah sepakoola!! Bravo Indonesia!!

Ganesha Putera

*) Penulis adalah pegiat sepak bola usia muda. Pendiri www.kickoffindonesia.com. Co-founder Filosofi Sepak bola Indonesia (Filanesia) saat mampir bekerja 29 bulan di Departemen Teknik PSSI. Wakil Direktur Pengembangan Sepak bola Persija Jakarta. Bercita-cita membawa klub Indonesia bermain di Piala Dunia Antar Klub.